Jokowi: Kita Butuh 9 Juta Orang Talenta Digital Untuk 15 Tahun ke Depan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat memberikan sambutan di acara Microsoft Digital Economy Summit //DevCon/ di Jakarta, Kamis 27 Februari 2020. (ANTARA/Natisha Andarningtyas)

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat memberikan sambutan di acara Microsoft Digital Economy Summit //DevCon/ di Jakarta, Kamis 27 Februari 2020. (ANTARA/Natisha Andarningtyas)

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi berharap pandemi Covid-19 ini bisa menjadi momentum bagi bangsa ini untuk mempercepat transformasi digital. Salah satu faktor penting yang dibutuhkan, kata dia, adalah sumber daya manusia.

    "Kita membutuhkan talenta digital sebanyak kurang lebih 9 juta orang untuk 15 tahun ke depan. Ini perlu betul-betul sebuah persiapan untuk kurang lebih 600 ribu orang per tahun, sehingga kita bisa membangun sebuah ekosistem yang baik bagi tumbuhnya talenta-talenta digital kita," ujar Jokowi saat membuka rapat terbatas 'Perencanaan Transformasi Digital' di Istana Merdeka, Jakarta pada Senin, 3 Agustus 2020.

    Faktor penting lainnya, kata Presiden, percepatan perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital dan percepatan penyediaan layanan internet di 12.500 desa atau kelurahan serta di titik-titik layanan publik. 

    Selanjutnya, roadmap transformasi digital di sektor-sektor strategis baik di pemerintahan, layanan publik, bantuan sosial, sektor pendidikan, sektor kesehatan, sektor perdagangan, sektor industri, dan sektor penyiaran. "Dan jangan sampai infrastruktur digital yang sudah kita bangun, justru utilitasnya sangat rendah," ujarnya.

    Berikutnya, kata dia, perlu adanya percepatan integrasi pusat data nasional dan pembentukan regulasi yang berkaitan dengan skema pendanaan dan pembiayaan transformasi digital.

    Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengatakan semua hal yang disebutkan di atas harus segera disiapkan secepat-cepatnya. Sebab, Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara lain dalam hal transformasi digital.

    "Survei lembaga IMD World Digital Competitiveness pada 2019, negara kita masih di peringkat 56 dari 63 negara. Kita di bawah sekali, lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga kita di ASEAN, misalnya Thailand di posisi 40, Malaysia di posisi 26, dan Singapura di posisi nomor 2," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebiasaan Anak Berbohong Dapat Merugikan Mereka Saat Dewasa

    Anak bisa melakukan kebohongan dengan atau tanpa alasan. Berbohong menurut si anak dapat menyelamatkan mereka dari konsekuensi yang diterimanya.