Partai Gelora Dukung Ambang Batas Parlemen 4 Persen

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fahri Hamzah (kiri) bersama Anis Mata saat merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan Partai Gelora. Instagram/@partai_gelora

    Fahri Hamzah (kiri) bersama Anis Mata saat merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan Partai Gelora. Instagram/@partai_gelora

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta mengatakan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold 4 persen merupakan angka yang rasional. “Dalam peta sosiologis di Indonesia, 4 persen adalah angka paling rasional meningkatkan tingkat partisipasi seluruh elemen bangsa,” kata Anis dalam peluncuran mobile apps E-KTA Partai Gelora Indonesia di akun Youtube Partai Gelora, Ahad, 19 Juli 2020.

    Selain dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu, Anis menilai, ambang batas parlemen sebesar 4 persen agar tidak ada suara rakyat yang hilang kalau banyak partai yang tidak lolos.

    Menurut dia, jika ambang batas parlemen lebih dari 4 persen, suara rakyat akan menjadi sia-sia. Sebab, jika ada 15 partai peserta pemilu, yang lolos ke parlemen hanya 5 partai karena ambang batas yang tinggi.

    Sementara 10 partai sisanya memiliki suara yang banyak jika digabung namun harus diberikan ke partai yang lolos. “Karena itu kita mendukung yang empat persen,” ujar Anis Matta.

    Sejumlah partai di Dewan Perwakilan Rakyat berencana menaikkan ambang batas parlemen dari 4 persen. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa mengusulkan kenaikan menjadi 5 persen.

    Sedangkan Partai NasDem dan Golkar mengusulkan agar angka ambang batas parlemen ini naik menjadi 7 persen. Saat ini, DPR tengah menyusun rancangan undang-undang untuk merevisi sejumlah aturan dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu tersebut.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hati-hati, Ada 5 Tempat Rawan Penularan Virus Corona di Kantor

    Penelitian mengumpulkan daftar lima titik risiko penyebaran Covid-19 di kantor. Sejumlah titik penularan virus corona sering kita abaikan.