22 Tahun Reformasi, Tommy Soeharto Bilang Pemilu Semakin Buruk

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hutomo Mandala Putra atau yang lebih dikenal sebagai Tommy Soeharto di Jakarta Selatan, Kamis, 11 April 2019. TEMPO/Fajar Pebrianto

    Hutomo Mandala Putra atau yang lebih dikenal sebagai Tommy Soeharto di Jakarta Selatan, Kamis, 11 April 2019. TEMPO/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, JakartaKetua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto menyinggung penyelenggaraan Pemilihan Umum di Indonesia. Menurutnya, setelah reformasi, Pemilu malah semakin memprihatinkan.

    “Jadi ini sangat memilukan dan memprihatinkan buat kita semua. Sebetulnya, selama 22 tahun reformasi bukan kita lebih baik, tapi penyelenggaraan Pemilu lebih memprihatinkan,” ujar Tommy dalam Rapat Pleno Dewan Pimpinan Pusat Partai Berkarya, di Gedung Granadi, Jakarta, Rabu, 8 Juli 2020.

    Tommy menyinggung penyelenggaraan Pemilu tahun 2019 yang menurutnya tidak demokratis, serta memakan banyak korban jiwa. “Kita mengetahui ada 600 orang penyelenggara meninggal, tapi dianggap seperti binatang yang meninggal, tidak ada proses hukum sama sekali,” kata Tommy.

    Dalam Rapat Pleno itu, Tommy mengapresiasi pencapaian partainya sekalipun diakuinya masih tidak sesuai target yang dicanangkan. Ia berharap kader-kadernya bisa meraih banyak suara dan bisa membentuk jaringan di daerah, khususnya dalam penyelenggara Pemilu.

    "Kita harus berupaya untuk kiranya kader-kader kita maupun kader-kader yang kita usung di Pilkada, harus memenangkan Pilkada yang ada. Karena hanya dengan itulah kita bisa memperkuat jaringan kita di daerah, khususnya di penyelenggara Pemilu,” ujar Tommy.

    ACHMAD HAMUDI ASSEGAF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Jalan Terus, Ada Usulan Perihal Pelaksanaan dalam Wabah Covid-19

    Rapat kerja antara DPR, Pemerintah, KPU, Bawaslu dan DKPP menyepakati bahwa Pilkada 2020 berlangsung 9 Desember 2020 dengan sejumlah usulan tambahan.