Polri Klaim Penyelidikan Serangan Digital ke Aktivis Terus Jalan

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri, Brigadir Jenderal (Brigjen) Argo Yuwono (kanan) melakukan konferensi pers terkait tersangka penyiraman Novel Baswedan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat, 27 Desember 2019. Koordinator Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane, mengatakan pelaku penyerangan berpangkat Brigadir. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri, Brigadir Jenderal (Brigjen) Argo Yuwono (kanan) melakukan konferensi pers terkait tersangka penyiraman Novel Baswedan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat, 27 Desember 2019. Koordinator Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane, mengatakan pelaku penyerangan berpangkat Brigadir. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono mengklaim, penyelidikan beragam kasus serangan digital terhadap sejumlah aktivis masih terus berjalan.

    "Semuanya akan kami lakukan penyelidikan. Awalnya penyelidikan, itu kami mencari apakah itu sebuah kasus pidana atau bukan," ujar Argo di kantornya, Jakarta Selatan, pada Rabu, 1 Juli 2020.

    Belakangan, serangan digital bertubi-tubi menghantam aktivis yang bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Pelaku serangan membajak akun WhatsApp dan media sosial serta mencuri data pribadi yang kemudian disebarluaskan. Pelaku peretasan diduga mencegat pesan berisi sandi yang dikirim WhatsApp.

    Salah satu serangan digital yang menyita perhatian publik adalah peretasan WhatsApp milik aktivis demokrasi dan transparansi, Ravio Patra yang terjadi pada 22 April lalu. Buntutnya, Ravio melaporkan peretasan yang ia alami ke Kepolisian Daerah Metro Jaya. Ia bahkan turut mengajukan gugatan praperadilan. Namun, hingga kini penyelesaian atas kasus Ravio tak pernah terdengar.

    Senasib dengan Ravio, teror yang dialami Guru Besar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Ni’matul Huda juga buntu.

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Yogyakarta Komisaris Besar Yulianto mengatakan penyelidik sudah memeriksa lima saksi dalam perkara ini. Namun, ia enggan menyebut siapa saja yang sudah diperiksa. Ia pun ogah membeberkan perkembangan kasus ini.

    ANDITA RAHMA | MAJALAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BUMN Bio Farma Produksi Vaksin Virus Corona 2021, Ada Syaratnya

    Bio Farma memerlukan akan produksi vaksin virus corona awal 2021 bila semua syarat terpenuhi. BUMN itu bekerja sama dengan Sinovac Biotech Ltd.