Direktur Utama Beberkan Carut-Marut Investasi Jiwasraya

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah karangan bunga berjejer di depan gedung Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu, 3 Juni 2020. Hadirnya sejumlah karangan bunga itu tepat dengan digelarnya sidang perdana kasus dugaan korupsi pengelolaan dana dan penggunaan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero). ANTARA/Galih Pradipta

    Sejumlah karangan bunga berjejer di depan gedung Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu, 3 Juni 2020. Hadirnya sejumlah karangan bunga itu tepat dengan digelarnya sidang perdana kasus dugaan korupsi pengelolaan dana dan penggunaan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero). ANTARA/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hexana Tri Sasongko membeberkan catur-marut pembukuan dan investasi di perusahaan yang dipimpinnya.

    Dia menyampaikannya pada saat bersaksi dalam sidang perkara korupsi Jiwasraya dengan terdakwa tiga pengusaha di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta hari ini, Rabu, 1 Juli 2020.

    "Saya tidak menemukan dokumentasi yang baik di perusahaan (pada saat itu)," kata dia.

    Tiga terdakwa yang disidang adalah Direktur PT Hanson Internasional Benny Tjokrosaputro, Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat, dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto,

    Hexana menceritakan bahwa dia bergabung di perusahaan asuransi tertua di Indonesia itu pada awal Mei 2018 sebagai Direktur Investasi dan Teknologi Jiwasraya. Pada November 2019, Hexana diangkat menjadi Direktur Utama.

    Menurut Hexana sejak dia bergabung, Jiwasraya tak memiliki prosedur standar dalam keputusan investasi. Bahkand ia tidak menemukan dokumen analisis fundamental pembelian saham perusahaan.

    "Jadi yang dilakukan, analisa langsung menukik pada technical analysis, berdasarkan chart, harga saham punya potensi naik turun sekian, maka diusulkan beli."

    Kejaksaan mendakwa enam terdakwa merugikan negara Rp 16,8 triliun.

    Para terdakwa tersebut adalah Benny Tjokrosaputro, Heru Hidayat, dan Joko Hartono Tirto, mantan Direktur Utama Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Direktur Keuangan Hary Prasetyo, dan eks Kepala Divisi Investasi Syahmirwan.

    Hexana mengungkapkan bahwa dia juga kesulitan mengakses dokumen transaksi investasi perusahaan. Kebanyakan perintah investasi dilakukan secara lisan.

    "Instruksinya adalah akan dilakukan transaksi silahkan menghubungi broker," ujarnya.

    Menurut Hexana, prosedur lisan juga terjadi ketika PT Jiwasraya menyerahkan dana untuk dikelola oleh sejumlah manajer investasi. Dia tak menemukan kontrak kerja Jiwasraya dengan manajer investasi.

    Dia menuturkan juga tak menemukan dokumen penyerahan dana Jiwasraya untuk dikelola oleh Benny Tjokrosaputro dkk.

    "Saya tidak tahu, karena tidak ada dokumennya," ucapnya.

    Korupsi di PT Asuransi Jiwasraya dari perjanjian kerja sama pengelolaan dana nasabah antara tiga pengusaha itu dengan petinggi Jiwasraya. Jaksa mendakwa investasi dilakukan secara sembrono dan melanggar aturan hingga menyebabkan kerugian negara.

    Jaksa pun menyebut Heru, Benny dan Joko turut memberikan uang, saham, dan fasilitas lain kepada tiga petinggi Jiwasraya berkaitan dengan . pengelolaan investasi saham dan reksadana selama 2008-2018.

    Belakangan, Kejaksaan menetapkan 13 perusahaan manajer investasi menjadi tersangka korupsi dan pencucian uang dalam kasus Jiwasrayai.

    Penyidik kejaksaan menemukan aliran dana dari enam terdakwa kasus Jiwasraya kepada 13 perusahaan tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.