Eijkman Ingatkan Terapi Plasma Konvalesen Bukan Pencegah Covid-19

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penelitian di Lembaga Biologi Molekular Eijkman. Sumber: dokumen Lembaga Eijkman

    Ilustrasi penelitian di Lembaga Biologi Molekular Eijkman. Sumber: dokumen Lembaga Eijkman

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan terapi plasma konvalesen bukan untuk mencegah penyakit Covid-19.

    “Ini terapi, bukan pencegahan. Dia tidak menggantikan vaksin,” kata Amin dalam diskusi di akun Youtube BNPB, Jumat, 26 Juni 2020.

    Amin mengatakan, plasma konvalesen merupakan imunisasi pasif yang antibodinya sudah ada di luar dan terbentuk, lalu diberikan pada pasien. Hal ini berbeda dengan imunisasi aktif yang menggunakan vaksin.

    Terapi plasma konvalesen bisa mempercepat penyembuhan pasien Covid-19 dengan kondisi berat. Sebab, plasma yang berasal dari penderita Covid-19 yang telah sembuh bisa mengeliminasi virus yang ada di dalam tubuh pasien yang masih sakit. “Sehingga diharapkan lingkaran infeksi terputus dan terhindar dari serangan virus,” ujarnya.

    Saat ini, terapi plasma konvalesen masih dalam tahap uji klinis di sejumlah rumah sakit, seperti RSPAD, RSCM, dan RSUP Persahabatan. Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan Erlina Burhan mengatakan, plasma menjadi salah satu opsi karena obat khusus Covid-19 belum ada.

    Terapi ini juga sudah lama ada dan pernah dipakai untuk pasien penderita SARS, MERS, dan flu burung. Untuk Covid-19, sejumlah negara juga melakukan uji klinis, seperti Cina, Korea, dan Amerika Serikat.

    Namun, karena jumlah pasien yang diberikan terapi ini masih sedikit, Erlina mengaku belum bisa mengambil kesimpulan yang tegas untuk menjadikannya sebagai pengobatan rutin. “Tapi dari laporan uji klinis yang dilakukan cukup bagus dan efektif,” kata Erlina.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?