Politikus PDIP Kritik Penanganan Covid RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis beraktivitas di luar Ruang Isolasi Khusus (RIK) yang merawat pasien WNA asal China di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, Senin, 27 Januari 2020. Meski hasil pemeriksaan sementara terhadap pasien WNA China yang dirawat di RIK tersebut mengindikasikan bukan akibat terjangkit virus corona, namun tim dokter RSUD dr Soetomo melakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan guna meningkatkan kewaspadaan dan kepastian tentang kondisi pasien. ANTARA

    Petugas medis beraktivitas di luar Ruang Isolasi Khusus (RIK) yang merawat pasien WNA asal China di RSUD dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, Senin, 27 Januari 2020. Meski hasil pemeriksaan sementara terhadap pasien WNA China yang dirawat di RIK tersebut mengindikasikan bukan akibat terjangkit virus corona, namun tim dokter RSUD dr Soetomo melakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan guna meningkatkan kewaspadaan dan kepastian tentang kondisi pasien. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Deni Wicaksono, menilai RSUD Dr. Soetomo Surabaya tidak siap menjadi rumah sakit rujukan pasien Covid-19.

    “RSUD Dr. Soetomo kurang melakukan persiapan yang matang dengan dijadikan RS rujukan Covid-19,” kata Deni kepada Tempo, Senin, 22 Juni 2020.

    Deni mengaku sempat meninjau fasilitas dan pelayanan di rumah sakit terbesar di Jawa Timur itu pada akhir Mei lalu. Ia pun menemukan bahwa rumah sakit tak memiliki langkah aksi yang terukur dan strategis.

    Misalnya, instalasi gawat darurat (IGD) sebagai ruang skrining awal pasien Covid-19 dan non Covid-19 hanya memiliki satu bed untuk isolasi. IGD juga tidak memiliki teknologi tekanan negatif, untuk mengantisipasi adanya pasien yang punya penyakit dengan risiko penularan melalui udara.

    “Bila alur ideal skrining ini tidak jalan, bisa dipastikan ruangan lain infeksius, apalagi kondisi sama tidak ada dukungan teknologi tekanan negatif,” ujarnya.

    Selain itu, ruang operasi untuk pasien non Covid-19 dan Covid-19 masih menjadi satu lantai, meski ruangannya terpisah. Para tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut juga tidak mendapatkan fasilitas tes swab yang berkala.

    Deni juga mengkritik Direktur RSUD Dr. Soetomo Joni Wahyuhadi yang merangkap jabatan sebagai Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur. “Dokter Joni abai dalam mengantisipasi lonjakan kasus,” kata politikus PDI Perjuangan itu.

    Sementara itu, Direktur RSUD Dr Soetomo, Joni Wahyuhadi, mengatakan rumah sakit memang sudah kelebihan kapasitas dalam menangani kasus Covid di Surabaya.

    “Ya memang kita rujukan. Karena overload akibat case di Surabaya, maka saya re-design,” kata Joni kepada Tempo melalui pesan singkat, Senin, 22 Juni 2020.

    Joni tak menjelaskan lebih lanjut mengenai persiapan yang sudah dilakukan RSUD Dr. Soetomo sebagai rumah sakit rujukan Covid-19. Namun, ia mengomentari kritikan Deni yang menyebut dirinya abai dalam mengantisipasi lonjakan kasus positif Covid-19 di Jawa Timur.

    “Yang abai itu Surabaya. Pak Deni sudah saya WA (WhatsApp), Dia hanya dapat informasi sepihak, saya minta dia ke Soetomo, nanti saya ajari,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan

    Komisi Pemilihan Umum siap menggelar Pemilihan Kepada Daerah Serentak di 9 Desember 2020. KPU prioritaskan keselamatan masyarakat dalam Pilkada 2020.