Covid-19 Dianggap Melandaikan Panggung Pilpres 2024

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyampaikan paparan pada rilis survey tentang Efek Kampanye dan Efek Jokowi: Elektabilitas Partai Jelang Pemilu Legislatif 2014 di Jakarta (4/4). Data lembaga survey Indikator Politik Indonesia, penetapan Jokowi menjadi capres meningkatkan suara PDIP. ANTARA/Wahyu Putro

    Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyampaikan paparan pada rilis survey tentang Efek Kampanye dan Efek Jokowi: Elektabilitas Partai Jelang Pemilu Legislatif 2014 di Jakarta (4/4). Data lembaga survey Indikator Politik Indonesia, penetapan Jokowi menjadi capres meningkatkan suara PDIP. ANTARA/Wahyu Putro

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan masa pandemi Covid-19 membuat panggung kontestasi Pilpres 2024 melandai. Menurutnya per Mei 2020 tidak ada calon yang menonjol.

    "Pada Mei 2020 efek Covid-19 terkait 2024, peta elektoral berubah. Survei kami di Februari atau di bulan sebelumnya, yang terjadi Pak Prabowo menang dengan selisih yang signifikan. Itu kalau di bulan sebelum pandemi menghantam," kata Burhanuddin dalam webinar di Cokro TV yang disiarkan melalui Youtube, Ahad 21 Juni 2020.

    Prabowo Subianto, menurut survei Indikator Politik di Februari 2020, mendapat angka signifikan, yakni 22 persen. Meninggalkan cukup jauh nama-nama lain di nomor selanjutnya.

    Namun angka tersebut, menurut Burhanuddin, turun di survei Indikator Politik pada Mei 2020. "Dari 22 persen menjadi 14 persen di bulan Mei itu artinya Pak Prabowo turun secara signifikan," kata dia.

    Sementara itu nama-nama lain seperti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Khofifah Indar Parawansa, dan Anies Baswedan angkanya beragam. Ada yang naik, dan turun. Namun angka tersebut, menurutnya masih masuk dalam rentang margin of error survei.

    "Apa artinya? Tidak ada calon yang dominan per Mei 2020. Jadi Covid-19 ini membuat lapangan permainan menjadi rata," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.