Anggota Komisi I DPR Minta Keamanan Siber Diperketat

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi proses peretasan di era teknologi digital. (Shutterstock)

    Ilustrasi proses peretasan di era teknologi digital. (Shutterstock)

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi I DPR Sukamta menyoroti dugaan peretasan sekitar 230 ribu data pasien tes Covid-19 di Indonesia yang kabarnya dijual di dark web.

    Menurut Wakil Ketua Fraksi PKS di DPR itu, ketahanan dan keamanan siber harus semakin diperkuat dalam masa pandemi Covid-19. Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), terdapat kenaikan serangan siber selama wabah ini.

    Sukamta menambahkan, dari laporan IBM (International Business Machines Corporation) menunjukkan bahwa secara global terdapat kenaikan serangan siber hingga 6 ribu persen dalam tiga bulan terakhir.

    "Makanya kita jangan sampai lengah di situ," kata Sukamta dalam keterangan tertulisnya hari ini, Minggu, 21 Juni 2020.

    Ia mengatakan telah mengingatkan masalah tersebut pada saat aplikasi Zoom meeting diretas dan data pelanggan Tokopedia serta Bukalapak diduga bocor beberapa waktu lalu.

    ADVERTISEMENT

    Jika klaim peretasan 230 ribu data Covid-19 benar terjadi, Sukamta menuturkan, itu kejahatan besar.|

    "Apalagi data yang bocor termasuk lengkap meliputi nama, NIK hingga hasil tes Covid-19. Derajat kejahatannya dobel," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Greysia / Apriyani, Dipasangkan pada 2017 hingga Juara Olimpade Tokyo 2020

    Greysia / Apriyani berhasil jadi pasangan pertama di ganda putri Indonesia yang merebut medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 pada cabang bulu tangkis.