Mendikbud Nadiem Terima Masukan dari Murid di Daerah Terpencil

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama mengerjakan tugas yang diberikan guru dari rumahnya di Jakarta Selatan, Selasa, 16 Juni 2020. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah mengumumkam tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada Juli 2020 mendatang dengan keputusan untuk daerah dengan zona kuning, oranye, dan merah dengan presentase 94% peserta didik baru dilarang untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka di satuan pendidikannya atau tetap belajar dari rumah, sedangan untuk zona hijau dengan presentase 6% peserta didik baru diperkenankan untuk melakukan pembelajaran tatap muka dengan tetap harus memenuhi banyak persyaratan. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama mengerjakan tugas yang diberikan guru dari rumahnya di Jakarta Selatan, Selasa, 16 Juni 2020. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah mengumumkam tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada Juli 2020 mendatang dengan keputusan untuk daerah dengan zona kuning, oranye, dan merah dengan presentase 94% peserta didik baru dilarang untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka di satuan pendidikannya atau tetap belajar dari rumah, sedangan untuk zona hijau dengan presentase 6% peserta didik baru diperkenankan untuk melakukan pembelajaran tatap muka dengan tetap harus memenuhi banyak persyaratan. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim berbicara langsung secara daring dengan 50 murid yang berasal dari daerah terpencil, kepulauan, daerah tertinggal, dan murid dengan disabilitas. Para siswa memberikan masukan tentang proses pembelajaran selama masa pandemi Covid-19. "Saya senang dapat berdialog serta mendengar cerita dan gagasan kreatif dari adik-adik murid," kata Mendikbud dalam keterangan tertulis, Jumat, 19 Juni 2020.

    Dialog ini terselenggara atas kerja sama Kemendikbud dengan Yayasan Plan Indonesia. Nadiem mengatakan upaya ini terus mendorong Kemendikbud mewujudkan akses pendidikan yang setara. "Tidak hanya terkait infrastruktur, tetapi juga kesempatan untuk seluruh murid di Indonesia."

    Nadiem mengatakan anak-anak terdampak secara langsung dan tidak langsung akibat perubahan lingkungan dan disrupsi di beragam sektor. Termasuk sistem pendidikan, sistem layanan perlindungan anak, kehidupan ekonomi keluarga, intensitas pengasuhan, hingga perubahan interaksi sosial masyarakat.

    Beberapa isu dan rekomendasi yang disampaikan para murid di antaranya tantangan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang belum ramah anak dan inklusif, serta infrastruktur dan akses teknologi yang belum merata, seperti internet, listrik, termasuk kepemilikan alat komunikasi seluler, komputer, TV, dan radio.

    ADVERTISEMENT

    Selain itu, kata dia, alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dinilai belum efektif menjangkau siswa dan mahasiswa dalam PJJ, dukungan dan pendampingan orang tua serta guru belum maksimal, tugas yang terlalu berat tanpa bimbingan guru, termasuk beban ganda di rumah khususnya bagi anak perempuan.

    Di wilayah pedalaman, PJJ dianggap kurang maksimal khususnya untuk daerah yang tak terjangkau listrik dan internet dengan fasilitas pendidikan, jumlah, dan kapasitas tenaga pendidik yang sangat terbatas.

    Kemendikbud mencata, dampak pandemi Covid-19 di sektor pendidikan dirasakan oleh 3,1 juta guru dan 56,1 juta murid sekolah di Indonesia, dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMA/K/sederajat, serta pendidikan tinggi, keagamaan, pesantren, pendidikan masyarakat, dan pendidikan pelatihan.

    Dalam keterangan yang sama, Plan Indonesia menyatakan telah melakukan tanggap darurat dengan memastikan perlindungan hak anak di masa pandemi. Khususnya bagi anak perempuan, anak penyandang disabilitas, anak dalam keluarga ekonomi lemah, dan anak di wilayah terpencil.

    Bantuan Plan Indonesia dalam bentuk penyediaan air bersih dan alat kebersihan, promosi kebersihan, perlindungan anak, dan memastikan akses pendidikan untuk anak-anak di daerah terpencil. Program ini dilaksanakan di Nusa Tenggara Timur di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nagekeo, Lembata, Belu, Malaka, Manggarai, Nusa Tenggara Barat di Lombok Barat, Lombok Utara, dan Mataram, Sumbawa, DKI Jakarta di 18 kelurahan, dan Jawa Tengah.

    Hingga saat ini tercatat lebih dari 400 ribu anak dan orang dewasa menerima bantuan itu. "Plan Indonesia berupaya menyediakan ruang aman bagi anak dan kaum muda, terutama perempuan, menyuarakan tantangan yang dihadapi selama masa pandemi," kata Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?