Doni Monardo Ingin Bahasa Lokal Dipakai untuk Jelaskan New Normal

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Gugus Tugas Nasional COVID-19 Letjen TNI Doni Monardo dan Menko PMK Muhadjir Effendy di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Rabu, 10 Juni 2020. Jokowi turut memantau ruang kerja kantor Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang menyimpan peta densitas sebaran kasus virus Corona di Indonesia. ANTARA/POOL/Sigid Kurniawan

    Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Gugus Tugas Nasional COVID-19 Letjen TNI Doni Monardo dan Menko PMK Muhadjir Effendy di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Rabu, 10 Juni 2020. Jokowi turut memantau ruang kerja kantor Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang menyimpan peta densitas sebaran kasus virus Corona di Indonesia. ANTARA/POOL/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta-Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep normal yang baru alias new normal. Menurut dia, ada sebagian masyarakat yang menganggap new normal berarti dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala sebelum pandemi Covid-19.

    "Kata-kata new normal ini belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat," kata Doni dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu, 17 Juni 2020.

    Doni menilai masyarakat di setiap daerah juga memerlukan cara berbeda untuk memahami new normal. Maka dari itu, dia berharap peran tokoh-tokoh masyarakat di daerah untuk menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.

    "Kami berharap setiap tokoh di daerah mampu menggunakan bahasa yang tepat. Termasuk penggunaan bahasa lokal," ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana ini.

    Doni juga meminta istilah-istilah lain dalam protokol kesehatan, seperti social distancing dan physical distancing diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dimengerti.

    Doni berujar Indonesia memiliki modal sosial yang besar, yakni gotong royong, untuk mengontrol dan mengurangi risiko penyebaran Covid-19. Menurut dia, semua pihak memiliki tanggung jawab bersama untuk mengingatkan masyarakat bahwa ancaman wabah belum berakhir.

    Doni juga mengakui bahwa masih banyak orang yang tidak peduli dan tidak disiplin mematuhi protokol kesehatan. Misalnya dengan tidak menggunakan masker, tak mau menjaga jarak fisik, dan tak rajin mencuci tangan.

    "Khusus jaga jarak, adalah salah satu kata yang sangat mudah diucapkan, tetapi sangat suli dilakukan dibandingkan menggunakan masker dan mencuci tangan," ucap Doni.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.