Ponsel Satpam PDIP Hilang 3 Hari Setelah KPK OTT Wahyu Setiawan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  Terdakwa mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum RI, Wahyu Setiawan (kanan), seusai mengikuti sidang perdana pembacaan surat dakwaan secara virtual dari gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Kamis, 28 Mei 2020. Jaksa Penuntut Umum KPK mendakwa Wahyu Setiawan, menerima suap sebesar SGD 57.350 atau Rp 600 juta. TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum RI, Wahyu Setiawan (kanan), seusai mengikuti sidang perdana pembacaan surat dakwaan secara virtual dari gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Kamis, 28 Mei 2020. Jaksa Penuntut Umum KPK mendakwa Wahyu Setiawan, menerima suap sebesar SGD 57.350 atau Rp 600 juta. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi, Takdir Suhan, mengatakan ponsel merek Xiaomi milik anggota Satuan Pengamanan Kantor DPP PDIP, Nurhasan, hilang pada 12 Januari 2020.

    Insiden ini terjadi hanya tiga hari setelah KPK menggelar rangkaian operasi tangkap tangan yang mencokok Wahyu Setiawan dan sejumlah orang lainnya.

    Nurhasan mengatakan ponselnya hilang saat ikut acara Car Free Day. Ponsel itu pernah dipakai untuk menelepon buronan KPK, Harun Masiku.

    "Hilang, Pak. Kalau ga salah lagi Car Free Day," kata Nurhasan saat bersaksi lewat konferensi video dalam sidang kasus suap Komisioner KPU Wahyu Setiawan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 11 Juni 2020.

    Nurhasan mengatakan dia baru menyadari ketika sampai di rumah. Dia mengatakan sempat menelepon ponselnya itu, namun sudah tidak aktif. "Pas sampai rumah lah handphone kagak ada, sampai ngebel-ngebel udah enggak aktif," kata dia.

    Lewat ponsel itu, Nurhasanah pernah menelepon Harun Masiku saat KPK melakukan OTT pada 8 Januari 2020. Saat itu, KPK sudah menangkap Wahyu, namun keberadaan Harun masih diburu.

    Pada waktu magrib, dua orang berbadan tegap mendatangi Nurhasan di pos keamanan Rumah Aspirasi, Jakarta Pusat. Mereka memerintahkan Nurhasan menelepon Harun. Lewat Nruhadan, mereka juga memerintahkan Harun untuk merendam ponselnya ke air.

    Lewat sambungan telepon pula, Nurhasan dan dua pria berbadan tegap bersepakat untuk bertemu Harun Masiku di dekat Masjid Cut Meutia, Jakarta. Dalam pertemuan, Harun memberikan tas laptop ke Nurhasan. Nurhasan lalu memberikan tas itu ke kedua pria tadi. Setelah itu, mereka berpisah. Hingga sekarang, Harun masih buron.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan

    Komisi Pemilihan Umum siap menggelar Pemilihan Kepada Daerah Serentak di 9 Desember 2020. KPU prioritaskan keselamatan masyarakat dalam Pilkada 2020.