Alasan Lain Perindo Menolak Parliamentary Threshold Naik

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi rapat di DPR. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    Ilustrasi rapat di DPR. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta -Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Indonesia atau Perindo Ahmad Rofiq mensinyalir kenaikan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) dalam Pemilu 2024 bakal mengancam soliditas koalisi pendukung Presiden Jokowi.

    Menurut Rofiq, partai-partai semestinya berjiwa besar dengan tak menaikkan parliamentary threshold dari 4 persen menjadi 5-7 persen.

    "Kalau jiwa besar itu ada di setiap partai maka tidak akan terjadi perpecahan," kata Rofiq ketika dihubungi Tempo hari ini, Kamis, 11 Juni 2020.

    Rofiq berpendapat sifat egosentris partai-partai politik atau ingin menang sendiri harus dihindarkan demi kepentingan bangsa dan negara.

    Dia pun menilai keinginan sejumlah partai menaikkan ambang batas parlemen dan mengubah sistem pemilu menjadi proporsional tertutup sangat mengada-ada.

    Menurut Rofiq, ambang batas parlemen sebesar 4 persen yang sekarang berlaku pun sudah cukup memberangus demokrasi. Dari Pemilu 2019, setidaknya ada 13,5 juta suara sah yang hangus.

    Angka ini merujuk pada total suara yang didapat partai-partai yang tidak lolos parliamentary threshold.

    Sejumlah partai besar mengusulkan kenaikan ambang batas parlemen.

    Partai Golkar dan Partai NasDem ingin parliamentary threshold untuk DPR naik menjadi 7 persen. Sedangkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa mengusulkan 5 persen.

    "RUU Pemilu itu mencerminkan bahwa demokrasi yang dibangun di parlemen itu demokrasi barbarian," ucap Rofiq.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan

    Komisi Pemilihan Umum siap menggelar Pemilihan Kepada Daerah Serentak di 9 Desember 2020. KPU prioritaskan keselamatan masyarakat dalam Pilkada 2020.