Veronica Koman Ajak Masyarakat Suarakan Masalah Rasisme di Papua

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka makar Ambrosius Mulait (kiri) dan Dano Tabuni (kanan) mengepalkan tangan saat menunggu dimulainya sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, Kamis 19 Desember 2019. Keenam aktivis tersebut ditangkap secara terpisah pada 30 dan 31 Agustus 2019 atas tuduhan makar pada aksi 28 Agustus. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Tersangka makar Ambrosius Mulait (kiri) dan Dano Tabuni (kanan) mengepalkan tangan saat menunggu dimulainya sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, Kamis 19 Desember 2019. Keenam aktivis tersebut ditangkap secara terpisah pada 30 dan 31 Agustus 2019 atas tuduhan makar pada aksi 28 Agustus. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - Pegiat HAM dan aktivis isu Papua, Veronica Koman, mengatakan gerakan Black Lives Matter yang terjadi di sejumlah negara relevan dengan persoalan Papua.

    "Black lives matter sangat berkaitan. Ini merupakan kebangkitan di mana-mana," kata Veronica dalam diskusi bertajuk '#PapuanLivesMatter: Rasisme Hukum di Papua' yang tayang di akun Youtube BEM UI, Sabtu malam, 6 Juni 2020.

    Black Lives Matter berangkat dari protes atas meninggalnya pria kulit hitam Amerika Serikat, George Floyd, akibat ditindih lutut polisi Minneapolis, Derek Chauvin.

    Veronica mengatakan, aksi membela hak-hak warga kulit hitam kini bukan hanya terjadi di Amerika. Gerakan ini sudah meluas ke negara di benua-benua lain, seperti Eropa dan Australia.

    Di Australia, kata Veronica yang juga bermukim di sana, aksi itu diadopsi menjadi Aborigin Lives Matter. Menurut dia, aksi Sabtu, 6 Juni 2020, di Sidney memecahkan rekor jumlah massa terbanyak sepanjang sejarah.

    Veronica mengatakan, sudah semestinya masyarakat Indonesia turut menyuarakan permasalahan rasisme terhadap warga Papua. Ia menyebut, warga negara yang baik justru harus menyuarakan hal tersebut.

    Saat ini, tujuh pemuda Papua tengah dituntut dengan pasal makar dan diancam penjara 5-17 tahun. Padahal, menurut Veronica, mereka hanya terlibat aksi antirasisme di Jayapura, yang merupakan buntut dari insiden rasisme di asrama mahasiswa Papua di Surabaya pada Agustus 2019.

    Pengacara HAM Papua, Gustaf Kawer mengatakan, situasi yang terjadi di Amerika saat ini penting untuk melihat situasi Papua hari ini. Menurut dia, persoalan di Papua adalah perulangan dari peristiwa sebelum-sebelumnya, yang memuncak pada 16 Agustus tahun lalu.

    Gustaf mengatakan, jika pemerintah serius, seharusnya insiden rasisme pada 16 Agustus 2019 itu diproses hukum. Namun karena tak ada tindakan tersebut, terjadilah aksi di Papua pada 19 dan 29 Agustus 2019. "Aksi ini menentang rasisme, kemudian respons negara menangkap dengan pasal makar," kata Gustaf dalam diskusi yang sama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.