Bareskrim Lacak Aset Tersangka Kasus Indosurya ke Luar Negeri

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Penipuan. shutterstock.com

    Ilustrasi Penipuan. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Reserse Kriminal Polri terus melakukan penyidikan terkait kasus dugaan penggelapan dan penipuan dana Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta.

    "Dan pengembangan khususnya dalam upaya pelacakan aset," ujar Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigadir Jenderal Helmy Santika saat dikonfirmasi pada Sabtu, 6 Juni 2020.

    Helmy menuturkan, penelusuran aset para tersangka dilakukan pihaknya sampai ke luar negeri. Polri pun telah bekerja sama dan berkoordinasi dengan stakeholder terkait.

    Sebelumnya, pada Mei 2020, Polri telah menetapkan dua orang berinsial HS dan SA sebagai tersangka dalam kasus Indosurya Cipta. Keduanya bahkan sudah dicekal untuk mempermudah penyidikan serta mencegah potensi para tersangka kabur.

    Kasus Indosurya bermula ketika gagal membayar bilyet yang jatuh tempo atau pun bagi hasil kepada sebagian nasabah sejak 10 Februari 2020. Dua pekan kemudian, sejumlah nasabah mulai menerima surat dari Indosurya bahwa uang simpanan mereka tidak bisa dicairkan dan baru bisa diambil enam bulan hingga empat tahun kemudian, tergantung nominalnya.

    Koperasi Indosurya berdiri pada September 2012. Mulanya pengelola menyiasati dengan membolehkan penarikan dengan batas Rp 1 juta per nasabah mulai 9 Maret 2020.

    Tiap hari Indosurya membatasi hanya 50 orang di seluruh Indonesia yang boleh menarik uang. Padahal jumlah nasabah Indosurya sekitar 8 ribu orang dengan total simpanan Rp 10 triliun.

    ANDITA RAHMA | FIKRI ARIGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan

    Komisi Pemilihan Umum siap menggelar Pemilihan Kepada Daerah Serentak di 9 Desember 2020. KPU prioritaskan keselamatan masyarakat dalam Pilkada 2020.