Menteri Muhadhjir: New Normal Tak Berarti PSBB Dicabut

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Umat Muslim menghadiri Salat Jum'at di Masjid Agung Al Azhar di Jakarta, ketika pemerintah melonggarkan pembatasan, Jumat, 5 Juni 2020. Warga DKI Jakarta dapat kembali mengikuti salat Jumat berjemaah setelah masjid ditutup selama 13 minggu untuk menekan penyebaran virus corona di ibu kota. REUTERS/Willy Kurniawan

    Umat Muslim menghadiri Salat Jum'at di Masjid Agung Al Azhar di Jakarta, ketika pemerintah melonggarkan pembatasan, Jumat, 5 Juni 2020. Warga DKI Jakarta dapat kembali mengikuti salat Jumat berjemaah setelah masjid ditutup selama 13 minggu untuk menekan penyebaran virus corona di ibu kota. REUTERS/Willy Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menegaskan penerapan tatanan kenormalan baru alias new normal, tak berarti mencabut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

    Menurut dia, kedaruratan nasional yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang PSBB akan tetap berlaku.

    Muhadjir mengatakan akan melakukan penyempurnaan aturan agar masyarakat bisa lebih memahaminya. Ia pun meminta Gugus Tugas dan kementerian/lembaga terkait perlu memberikan edukasi kepada masyarakat secara masif bahwa normal baru bukan berarti seenaknya saja.

    "Padahal ketika mereka diberikan pengurangan pembatasan itu artinya PSBB masih berlaku, yaitu PSBB minimal yang seperti tercantum dalam UU Kedaruratan Kesehatan pasal 49. Sehingga harus dipahami betul mengenai protokol kesehatan dasarnya," kata Muhadhir dalam keterangan tertulis, Sabtu, 6 Juni 2020.

    Pemerintah memutuskan new normal akan diterapkan di Indonesia. Penerapannya dilakukan secara bertahap. Kemarin, Jumat, 5 Juni 2020, salat Jumat berjamaah yang sebelumnya sempat dilarang, mulai kembali digelar dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

    Di Jakarta, meski PSBB masih diperpanjang, namun Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan hal ini merupakan bentuk transisi menuju kenormalan baru.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.