Bambang Widjojanto Sebut Nurhadi Bisa Jadi Pintu Masuk Kasus Lain

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi, menjalani pemeriksaan pasca ditangkap tim penyidik KPK setelah masuk menjadi Daftar Pencarian Orang (buron) di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2020. Nurhadi dan menantunya, Rezky Hebriyono telah ditetapkan sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi kasus dugaan suap sebesar Rp.46 miliar kepada tersangka mantan Sekretaris Mahkamah Agung 2011-216, Nurhadi terkait dengan pengurusan perkara di Mahkamah Agung Tahun 2011-2016. TEMPO/Imam Sukamto

    Mantan Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi, menjalani pemeriksaan pasca ditangkap tim penyidik KPK setelah masuk menjadi Daftar Pencarian Orang (buron) di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2020. Nurhadi dan menantunya, Rezky Hebriyono telah ditetapkan sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi kasus dugaan suap sebesar Rp.46 miliar kepada tersangka mantan Sekretaris Mahkamah Agung 2011-216, Nurhadi terkait dengan pengurusan perkara di Mahkamah Agung Tahun 2011-2016. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjojanto, mengatakan tertangkapnya bekas Sekretaris Jenderal Mahkamah Agung, Nurhadi, bisa jadi pintu masuk untuk membongkar kasus lainnya.

    Menurut Bambang, posisi Nurhadi sebelumnya memungkinkannya berhubungan dengan kasus-kasus lain.

    "Kalau dilacak seperti itu, kasus ini, kita bisa masuk dari kasus ini. Akan banyak kasus dengan orang yang ditangkap KPK ini," kata Bambang kata Bambang dalam diskusi daring bersama Indonesian Corruption Watch, Jumat 5 Juni 2020.

    Bambang mengatakan Nurhadi pernah menduduki posisi Sekjen MA yang kerap berhubungan dengan pihak luar. 

    "Banyak orang sekarang tidak bisa lagi tidur, banyak orang keringat dingin, kalau Nurhadi bernyanyi, partitur itu akan menyentuh seluruh nota balok," tuturnya.

    Bambang pun berharap Ketua MA yang baru, Syarifuddin, bisa menjadikan tertangkapnya mantan Sekjen MA ini sebagai momentum untuk membersihkan jajarannya. Bambang menduga Nurhadi masih memiliki jaringan yang cukup kuat di dalam sistem MA.

    "Alhamdulilah kita punya pimpinan MA yang baru. Ini momentum untuk lakukan bersih-bersih. Nurhadi itu punya jaringan cukup kuat, karena korupsi tidak bisa dilakukan sendiri. Biasanya dia punya messenger, messenger ada di dalam sistem tidak mungkin di luar," kata dia.

    KPK menjerat Nurhadi sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi senilai Rp 46 miliar dari pengurusan perkara di MA. Duit diduga berasal dari Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal Hiendra Soenjoto. Sempat buron beberapa bulan, Nurhadi dan menantunya akhirnya ditangkap di rumahnya di kawasan Simprug, Jakarta Selatan. Hiendra masih buron.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan

    Komisi Pemilihan Umum siap menggelar Pemilihan Kepada Daerah Serentak di 9 Desember 2020. KPU prioritaskan keselamatan masyarakat dalam Pilkada 2020.