Pemkot Pertanyakan Penyebutan Surabaya Zona Hitam Covid

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung duduk di lokasi yang telah ditentukan di pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza, Surabaya, Jawa Timur, Jumat 29 Mei 2020. Sejumlah aturan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, pemeriksaan suhu tubuh dan jaga jarak diterapkan di pusat perbelanjaan tersebut seiring memasuki era normal baru di tengah pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Pengunjung duduk di lokasi yang telah ditentukan di pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza, Surabaya, Jawa Timur, Jumat 29 Mei 2020. Sejumlah aturan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, pemeriksaan suhu tubuh dan jaga jarak diterapkan di pusat perbelanjaan tersebut seiring memasuki era normal baru di tengah pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta -Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya  M. Fikser mempertanyakan penyebutan Surabaya sebagai zona hitam Covid-19 mengacu pada banyaknya kasus positif.

    Sebab sesuai tahapan protokol masyarakat produktif dan aman Covid-19 yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hanya ada empat warna dalam peta persebaran Covid-19, yaitu hijau, kuning, oranye dan merah. 

    Ia berujar, dalam pedoman yang telah ditentukan BNPB, warna hijau ada pada level 1 atau aman. Artinya, risiko penyebaran virus ada, tapi tidak ada kasus positif. Warna kuning ada pada level 2 yang berarti risiko ringan. Artinya, penyebaran terkendali tetapi ada kemungkinan transmisi lokal.

    Selanjutnya warna oranye pada level 3 atau risiko sedang. Artinya, risiko tinggi penyebaran dan potensi virus tidak terkendali. Sedangkan warna merah level 4 atau risiko tinggi, yang berarti penyebaran virus tidak terkendali.

    Adapun warna merah tua (pekat) dan hitam tidak dikenal dalam tahapan protokol tersebut. Meski demikian Fikser enggan berpolemik soal penyebutan Surabaya sebagai zona hitam covid. “Kami tidak mengurus warna, kami serius dan fokus dalam penanganan pemutusan mata rantai covid,” kata Fikser di Balai Kota Surabaya, Kamis, 4 Juni 2020.

    Menurutnya, pekerjaan menanggulangi wabah corona ini tak hanya dilakukan oleh pemkot, melainkan juga didukung oleh banyak elemen, mulai pemerintah pusat, BNPB, BIN, Kemenkes dan TNI-Polri. Saat ini, kata dia, tahap penanganan ialah rapid test massal dan swab. “Kalau soal warna zona hitam, tanyakan pada yang memberi warna saja,” kata Fikser.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.