DPRD Pertanyakan Penggunaan Dana Penanganan Covid-19 di Surabaya

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melihat peta peyebaran kasus COVID-19 melalui ponsel pada laman radarcovid19.jatimprov.go.id di Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 21 Mei 2020. Tambahan 451 kasus positif ini tersebar di sejumlah daerah di Jatim, di antaranya Surabaya (311 kasus), Sidoarjo (57 kasus), Gresik (27 kasus), Kabupaten Probolinggo (31 kasus), serta sejumlah wilayah lainnya. ANTARA/Moch Asim

    Warga melihat peta peyebaran kasus COVID-19 melalui ponsel pada laman radarcovid19.jatimprov.go.id di Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 21 Mei 2020. Tambahan 451 kasus positif ini tersebar di sejumlah daerah di Jatim, di antaranya Surabaya (311 kasus), Sidoarjo (57 kasus), Gresik (27 kasus), Kabupaten Probolinggo (31 kasus), serta sejumlah wilayah lainnya. ANTARA/Moch Asim

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi A Bidang Hukum dan Pemerintahan DPRD Kota Surabaya mempertanyakan penggunaan anggaran penanganan Covid-19 yang telah dianggarkan melalui APBD Surabaya sebesar Rp196 miliar.

    Anggota Komisi A DPRD Surabaya M Machmud mengatakan dalam teleconference Pemkot Surabaya dengan DPRD Surabaya pada Maret 2020, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan telah menganggarkan Rp196 miliar untuk penanganan COVID-19 di Surabaya. "Tapi sampai sekarang belum terlihat penggunaan anggaran itu," kata Machmud di Surabaya, Rabu, 3 Juni 2020.

    Menurut dia, selama ini banyak bantuan penanganan Covid-19 dari sejumlah pihak, baik dari instansi pemerintahan maupun swasta serta perorangan mengalir ke Pemkot Surabaya. Dengan demikian, lanjut dia, anggaran yang telah disediakan tidak terpakai banyak.

    Selama ini, kata dia, DPRD Surabaya hanya diberi lembaran kertas sebagai formalitas laporan penerimaan bantuan penanganan Covid-19 dari berbagai pihak, termasuk para pengusaha dan didisitribusikan ke mana saja bantuan itu.

    "Sampai sekarang belum ada laporan penggunaan APBD, yang dipakai sudah berapa dan untuk apa saja. Saya malah dapat laporan katanya banyak sembako yang menumpuk di kantor kecamatan," kata Machmud.

    Mantan Ketua DPRD Surabaya ini menilai Pemkot Surabaya selama ini terkesan hanya menunggu bantuan-bantuan saja untuk membantu warga Surabaya di tengah pandemi Covid-19. "Sebenarnya siapa yang menyelesaikan masalah ini, pemkot apa pengusaha," ujar Machmud.

    Bahkan, menurut politikus Parta Demokrat ini, ada saran dari beberapa pihak agar Pemkot Surabaya membeli mobil laboratorium PCR baru-baru ini dinilai terlambat karena pandemi Covid-19 sudah berjalan tiga bulan ini.

    Untuk itu, Machmud meminta Pemkot Surabaya agar lebih fokus dalam penanganan Covid-19 menyusul angka kasus warga yang positif Covid-19 di Surabaya sampai ini masih bertambah.

    "Kami berharap agar pemkot fokus penyembuhan pasien Covid-19 dan menekan angka kematian akibat Covid-19," katanya.

    Selain itu, ia juga meminta Pemkot Surabaya bersikap bijak jika ada kritik dari Pemerintah Provinsi Jatim terkait penanganan Covid-19 di Surabaya sebagai masukan. "Jadi buat introspeksi diri untuk melengkapi dan menyempurnakan tindakan selama ini yang mungkin dianggap kurang tepat guna atau tepat sasaran," ujar Machmud.

    Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebelumnya mengatakan Pemkot Surabaya telah melakukan berbagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Surabaya, salah satunya dengan menekankan tracing (pelacakan) dan pemetaan suatu wilayah secara masif.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BUMN Bio Farma Produksi Vaksin Virus Corona 2021, Ada Syaratnya

    Bio Farma memerlukan akan produksi vaksin virus corona awal 2021 bila semua syarat terpenuhi. BUMN itu bekerja sama dengan Sinovac Biotech Ltd.