PGRI Anggap Belajar Tatap Muka Belum Saatnya Dilakukan

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kanan) didampingi Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Unifah Rosyidi (kedua kanan) menyerahkan penghargaan kepada sejumlah guru berprestasi pada puncak peringatan HUT KE-74 PGRI di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 30 November 2019. Acara tersebut mengangkat tema

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kanan) didampingi Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Unifah Rosyidi (kedua kanan) menyerahkan penghargaan kepada sejumlah guru berprestasi pada puncak peringatan HUT KE-74 PGRI di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 30 November 2019. Acara tersebut mengangkat tema " Peran strategis Guru dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia unggul. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi menegaskan bahwa saat ini belum saatnya aktivitas belajar mengajar secara tatap muka langsung dilakukan oleh guru dan siswa di sekolah. Pandemi Covid-19 dia nilai masih terlalu berisiko untuk menular jika hal tersebut dilakukan.

    "Belum saatnya sekolah dibuka. Tapi belajar tetap berlangsung. Beda kan. Belajar tatap muka belum saatnya," ujar Unifah saat dihubungi Tempo, Selasa, 2 Juni 2020.

    Ia mengatakan sekolah dapat tetap mulai berjalan seperti jadwal tahunan sebelumnya pada Juli. Namun aktivitasnya tetap harus dilakukan dari rumah. Ia melihat Indonesia belum memiliki data ilmiah yang menunjukkan bahwa tren saat ini dapat membuat aktivitas tatap muka langsung dalam belajar sudah dapat dilakukan.

    Meski pemerintah pusat berencana menerapkan tatanan kenormalan baru (new normal) secara bertahap di beberapa daerah dengan status hijau Covid-19, namun tak berarti aktivitas sekolah juga bisa menjadi bagian yang mulai normal. Ia mengatakan tak ada jaminan bahwa siswa tak akan terpapar virus bila sekolah dinormalkan kembali.

    "Sekolah di daerah hijau (kembali dibuka), siswanya bisa dijamin dari daerah hijau juga nggak? Dari berangkat sampai pulang yakin tak melewati daerah hijau nggak? Gak ada jaminan sama sekali," kata Unifah.

    Ia mengatakan Indonesia juga harus belajar dari Korea Selatan dan Denmark yang mencoba membuka kembali sekolah secara langsung. Kedua negara itu akhirnya menutup kembali sekolah dan menerapkan lagi belajar dari rumah. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi gelombang kedua Covid-19.

    Unifah juga mengatakan selama ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak melibatkan PGRI dalam pembahasan mengenai persiapan sekolah di era new normal. Meski tak terlalu ambil pusing terkait hal tersebut, namun ia mengatakan secara sumber daya manusia, PGRI memiliki banyak orang yang berkompeten untuk memeberi masukan bagi pemerintah.

    "Kalau PGRI nggak dilibatkan kan saya nggak risau. Yang saya risau kalau ahli ngga dilibiatkan. Epidemolog sampai ahli pendidikan. Nah di PGRI ini tempatnya ahli pendidikan ngumpul," kata Unifah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.