Dubes RI: Jerman Tidak Pernah Remehkan Covid Sejak Kasus Pertama

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Muslim mendengarkan kutbah setelah melaksanakan salat Jumat di Gereja St. Martha di Berlin, Jerman, 22 Mei 2020. Gereja Marta mengizinkan umat Muslim menggelar salat Jumat di dalamnya selama Ramadan 2020, karena bangunan itu memiliki daya tampung hingga 100 jamaah. REUTERS/Fabrizio Bensch

    Warga Muslim mendengarkan kutbah setelah melaksanakan salat Jumat di Gereja St. Martha di Berlin, Jerman, 22 Mei 2020. Gereja Marta mengizinkan umat Muslim menggelar salat Jumat di dalamnya selama Ramadan 2020, karena bangunan itu memiliki daya tampung hingga 100 jamaah. REUTERS/Fabrizio Bensch

    TEMPO.CO, JakartaDuta Besar RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno mengatakan bahwa pemerintah Jerman serius merespons penyakit Covid-19 sejak muncul kasus infeksi pertama kali.

    "Tidak ada sikap meremehkan Covid-19 dari pimpinan tertinggi," kata Arif dalam video yang ditayangkan di akun Youtube BNPB, Sabtu, 30 Juni 2020.

    Arif mengatakan, pemerintah Jerman juga cepat mengambil kebijakan ketika ada kasus pertama Covid-19 di negara tersebut, pada 27 Januari lalu. Saat itu juga, pemerintah Jerman membentuk tim krisis corona. Lalu memutuskan untuk lockdown.

    Kebijakan di sana, kata Arif, bersifat tegas dan diimplementasikan hingga di lapangan. Pada awal lockdown, banyak warga Jerman yang tidak terlalu patuh. Bahkan ada orang membuat pesta  lantaran pub ditutup. Kegiatan itu kemudian dibubarkan pemerintah Jerman. "Dan dilakukan tindakan disiplin. Sehingga kebijakan tegas di lapangan," katanya.

    Kebijakan pemerintah Jerman juga tidak menggunakan frasa rumit. Dengan kata lain, bahasa yang dipakai mudah dimengerti dan bisa diterapkan masyarakat. Dampaknya pun menimbulkan disiplin masyarakat Jerman yang tinggi.

    Arif mengakui, hoaks dan protes warga juga mewarnai kebijakan tegas pemerintah Jerman. Namun, mayoritas masyarakat di sana memiliki disiplin tinggi dan menyadari bahwa kebijakan tersebut kepentingan bersama.

    Koordinasi pemerintah pusat dengan negara-negara bagian di Jerman juga berjalan. Arif menceritakan, mereka memiliki mekanisme review 2 pekan sekali. Setelah review akan ada pengumuman terbuka, jelas, dan menunjukkan langkah apa saja yang akan dilakukan dalam masa mendatang. "Jadi ada konsistensi dari pemerintah pusat di Berlin juga di negara bagian," ujarnya.

    Kesiapan infrastruktur di Jerman juga dapat dijadikan pelajaran berharga yang bisa dicontoh negara lain. Menurut Arif, setiap negara perlu melakukan analis mendalam tentang pentingnya investasi di bidang kesehatan, pengembangan teknologi vaksin, dan investasi bidang lain yang dapat membantu negara jika terjadi pandemi.

    Jerman memiliki 2.000 rumah sakit dan pernah dikritik karena terlalu banyak. "Ternyata RS yang banyak sangat membantu di pandemi Covid ini. Jerman memiliki jumlah tempat tidur ICU 28 ribu. Ventilator 35 ribu. Angka yang sangat tinggi dibanding negara Eropa sekitar Jerman," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan

    Komisi Pemilihan Umum siap menggelar Pemilihan Kepada Daerah Serentak di 9 Desember 2020. KPU prioritaskan keselamatan masyarakat dalam Pilkada 2020.