Ahli UI: Jakarta Paling Berisiko Covid, Jawa Timur Urutan Sebelas

Reporter:
Editor:

Anton Aprianto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kesehatan menyemprotkan cairan disinfektan ke atas permukaan barang bawaan milik Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Pesiar MV Nieuw Amsterdam setibanya di Pelabuhan JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat 29 Mei 2020. Sebanyak 418 orang WNI ABK MV Nieuw Amsterdam dan 400 WNI ABK MV Carnival Splendor menjalani serangkaian tes kesehatan sesuai protokol pencegahan COVID-19 seperti tes swab sebelum dibawa menuju hotel untuk menjalani isolasi mandiri. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

    Petugas kesehatan menyemprotkan cairan disinfektan ke atas permukaan barang bawaan milik Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Pesiar MV Nieuw Amsterdam setibanya di Pelabuhan JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat 29 Mei 2020. Sebanyak 418 orang WNI ABK MV Nieuw Amsterdam dan 400 WNI ABK MV Carnival Splendor menjalani serangkaian tes kesehatan sesuai protokol pencegahan COVID-19 seperti tes swab sebelum dibawa menuju hotel untuk menjalani isolasi mandiri. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.Co, Jakarta - Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif, menilai DKI menjadi provinsi paling berisiko terhadap virus Corona atau Covid-19 dengan 67 per 100 ribu penduduk. “Sehingga yang perlu diwaspadai adalah orang Jakarta yang keluar, bukan orang luar yang masuk Jakarta,” ujar Syahrizal dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 29 Mei 2020.

    Setelah DKI, Kalimantan Utara menjadi provinsi kedua paling berisiko dengan 23 per 100 ribu penduduk. Kemudian Kalimantan Selatan dengan 19 per 100 ribu penduduk, Papua 18 per 100 ribu penduduk, Papua Barat 16 per 100 ribu penduduk, dan Sulawesi Selatan 16 per 100 ribu penduduk.

    Adapun menurut Syahrizal, penduduk Jawa Timur bukan yang paling berisiko tertular Covid-19 setelah DKI. “Pemerintah harusnya lebih khawatir dengan wabah di Kalimantan, Papua, dan Sulawesi,” kata Syahrizal.

    Syahrizal menerangkan, meski kasus kumulatif positif Covid-19 di Jawa Timur terbanyak setelah DKI, tak lantas menjadikan wilayah tersebut berisiko.

    Untuk melihat risiko penduduk tertular Covid-19, kata Syahrizal, tidak bisa didasari dari angka mutlak. Tetapi harus dibandingkan dalam bentuk ukuran insiden kumulatif. “Ukuran ini memasukan faktor besarnya jumlah penduduk di masing-masing provinsi,” katanya. 

    Syahrizal menjelaskan, angka yang dibandingkan dalam bentuk jumlah kasus per 100 ribu penduduk. Sehingga risiko penduduk antarprovinsi dapat dibandingkan seimbang. 

    Berdasarkan hitungan tersebut, penduduk Jawa Timur justru menempati posisi ke-11 yang paling berisiko tertular Covid-19, dengan 10 per 100 ribu penduduk.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.