JK: Donasi Covid-19 Terganjal Kondisi Ekonomi di Tengah Pandemi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga antre makanan murah seharga Rp 3.000 per box di Warung Sidqah di kawasan Wastukancana, Bandung, Jawa Barat, jelang buka puasa, Sabtu, 16 Mei 2020. Warung ini menyediakan donasi nasi kotak murah dengan target penyaluran 5.000 box nasi dengan lauk lengkap yang normalnya seharga Rp 15.000 per box yang dijual Rp 3.000  bagi warga terdampak virus corona. TEMPO/Prima Mulia

    Warga antre makanan murah seharga Rp 3.000 per box di Warung Sidqah di kawasan Wastukancana, Bandung, Jawa Barat, jelang buka puasa, Sabtu, 16 Mei 2020. Warung ini menyediakan donasi nasi kotak murah dengan target penyaluran 5.000 box nasi dengan lauk lengkap yang normalnya seharga Rp 15.000 per box yang dijual Rp 3.000 bagi warga terdampak virus corona. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK mengungkapkan perbedaan solidaritas atau donasi masyarakat di tengah pandemi Covid-19 dan saat bencana lainnya. JK mengatakan solidaritas warga saat ini tak terlalu tinggi karena masyarakat di semua daerah berhadapan dengan wabah yang sama.

    "Sekarang semua tempat kena, jadi orang menjaga tabungannya," kata JK dalam diskusi virtual bersama Tempo, Sabtu, 23 Mei 2020.

    Dia mencontohkan tsunami Aceh pada 2004. Ketika itu, kata JK, penggalangan dana yang dilakukan oleh sebuah stasiun televisi bisa mengumpulkan uang lebih dari Rp 100 milar. JK mengatakan stasiun televisi yang sama kembali menggalang dana untuk Covid-19, tetapi uang yang terkumpul sekitar 10-15 persennya saja.

    JK mengatakan hal itu terjadi karena sebelumnya bencana hanya melanda Aceh sedangkan tempat lain aman. Sedangkan saat ini perekonomian seluruh negara kena imbasnya.

    JK mengatakan masyarakat di tiga kelompok ekonomi sama-sama terimbas pandemi Covid-19. Masyarakat kelas bawah barangkali tak memiliki tabungan untuk hidup lebih dari satu bulan tanpa bekerja.

    Adapun masyarakat kelas menengah, kata dia, juga menghemat tabungan untuk cadangan hidup selama enam bulan. Sedangkan masyarakat kelas atas yang bisa berinvestasi kini tengah wait and see.

    Hal yang sama, kata JK, juga terjadi saat krisis ekonomi 1998. Ketika itu, kata JK, hanya tiga negara di Asia yang terkena dampak sedangkan negara lain masih dapat dimintai bantuan.

    "Sekarang kita minta ke mana? Memalukan kan kalau kita minta ke Jepang, Amerika Serikat," kata dia. "Jadi sekarang kemandirian sangat penting, jangan mengharap ke mana-mana."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.