Polres Tasikmalaya Fasilitasi Eks Napi Teroris Bertemu Keluarga

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Narapidana Kasus Teroris bertemu dengan keluarganya. (Tempo/ROMMY ROOSYANA)

    Mantan Narapidana Kasus Teroris bertemu dengan keluarganya. (Tempo/ROMMY ROOSYANA)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Resor (Polres) Tasikmalaya Kota bersama Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri memfasilitasi pertemuan tiga mantan narapidana teroris (Napiter) yang bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas 1 A Cipinang, Jakarta.

    Ketiga mantan napiter asal Tasikmalaya tersebut dijemput oleh tim gabungan dari Jakarta didampingi oleh perwakilan fasilitator antara polisi dan keluarga selama para suaminya mendekam di penjara. Ketiganya dibawa menggunakan bus Polisi berwarna hitam adalah Ag (21), An (41) dan Dn (49) tiba di Markas Polres Tasikmalaya Kota, Rabu 20 Mei 2020 sore.

    Mereka disambut oleh para istri dan anak-anaknya yang sudah menunggu sejak siang. Tangis haru tak terbendung saat mereka turun bus lantaran selama dua tahun mendekam di LP Cipinang baru bertemu lagi dengan keluarganya.

    Usai melepas rindu dengan keluarga masing-masing, mereka diajak berbuka puasa bersama oleh Kepala Polres Tasikmalaya Kota Ajun Komisaris Besar Anom Karibianto dan Wakilnya Komisaris Riki Ariesetiawan.

    "Kami berharap mereka bisa kembali ke masyarakat dengan normal seperti warga normal lainnya. Kami bersama Tim Densus 88 dan fasilitator sesama mantan napiter terus berupaya para mantan baru ini bisa kembali ke lingkungan masyarakat kembali," kata Anom di Markas Polres Tasikmalaya Kota, Rabu 20 Mei 2020 petang.

    Anom mengatakan,polisi akan terus mendorong para mantan napiter ini bisa kembali lagi ke dalam kehidupan normal tanpa ada kaitannya lagi dengan jaringan lama.

    Ketiga mantan napiter ini, kata dia, dihukum dengan kasus kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, dua tahun lalu. "Kami akan dorong dan fasilitasi adaptasi dengan masyarakat berjalan dengan lancar. Semua terkait kehidupannya, kita akan fasilitasi terus dalam pemenuhan kebutuhannya sehari-hari," tandasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, seorang fasilitator yang juga sesama mantan napiter, Anton Hilman menyebut  telah mendirikan sebuah yayasan untuk memfasilitasi dan menyosialisasikan mereka kembali lagi ke masyarakat.

    Ia menuturkan yayasan juga selama ini bergerak dalam mengubah pemahaman radikalisme kembali ke ajaran agama yang benar atau deradikalisasi.

    "Karena langkah kami seperti ini bukan hanya sekarang kejadiannya. Yayasan kami juga bersama mereka mantan napiter. Kami sudah mengubah pemahaman radikal. Kami bentuk sebuah yayasan dan dipercaya menjembatani atau bersosialisasi kepada mereka dengan masyarakat," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTUN: Blokir Internet di Papua dan Papua Barat Melanggar Hukum

    PTUN umumkan hasil sidang perihal blokir internet di Papua dan Papua Barat pada akhir 2019. Menteri Kominfo dan Presiden dinyatakan melanggar hukum.