Menteri KLHK Menamai Bayi Jerapah di Bali Safari dengan Corona

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bayi jerapah yang belum dinamai ini berdiri di dekat anggota keluarganya di dalam kandang kebun binatang di Duisburg, Jerman, 13 Februari 2015. AP/Frank Augstein

    Bayi jerapah yang belum dinamai ini berdiri di dekat anggota keluarganya di dalam kandang kebun binatang di Duisburg, Jerman, 13 Februari 2015. AP/Frank Augstein

    TEMPO.CO, Denpasar - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar memberi nama seekor bayi jerapah di Kebun Binatang Bali Safari Park, Corona. Bayi jerapah ini lahir pada 9 April 2020.

    “Kelahirannya saat pandemi Covid-19,” kata tim dokter hewan Taman Safari Indonesia (TSI) Group, drh Yohana Kusumaningtyas, Rabu, 20 Mei 2020.

    Bayi jerapah ini lahir dari pasangan indukan, Soffie, dan pejantan, Matadi. Proses kelahirannya berjalan dengan lancar. Tim dokter memantau proses kelahirannya melalui kamera pengawas.

    “Setelah 2 jam Soffie mengalami kontraksi, lahirlah bayi jerapah dalam kondisi yang sehat,” ujarnya.

    Yohana menjelaskan, Sophie hamil sekitar 15 bulan. Sejak awal kehamilan, kondisi Sophie selalu dipantau oleh keeper (perawat satwa), dokter hewan, dan asisten kurator. “Mereka rutin memeriksa kondisi kehamilan dan kesehatan Sophie setiap hari,” ujarnya.

    Jerapah (Giraffa camelopardalis) merupakan jenis endemik Afrika dan merupakan spesies hewan tertinggi yang hidup di darat.

    Jerapah jantan dapat mencapai tinggi 4,8 sampai 5,5 meter dan memiliki berat hingga mencapai 1.360 kilogram. Jerapah betina biasanya sedikit lebih pendek dan lebih ringan.

    Saat ini, Yohana mengatakan , bayi jerapah Corona dalam kondisi sehat. Ia masih berada dalam pengasuhan langsung oleh induknya, Soffie.

    Dengan kelahiran ini, maka total jumlah jerapah di Bali Safari menjadi lima ekor, yang terdiri dari dua jantan dan tiga betina.

    Sementara itu, meski ditutup sementara dalam rangka mencegah mata rantai penyebaran Covid-19 sejak 23 Maret 2020 lalu, program konservasi satwa tetap berjalan di Bali Safari.

    Termasuk salah satunya adalah pengembangbiakan satwa dan perawatannya. Satwa tetap diberi pakan secara rutin dan normal. Kondisinya selalu dimonitor tim medis. Terlebih lagi, satwa hamil yang wajib mendapatkan perawatan ekstra demi kesehatan bayinya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.