Hari Bakti Dokter, IDI Minta Dokter tidak Jadi Objek Politisasi

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter dan tenaga medis memastikan kenyamanan dan keamanan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum memasuki ruang isolasi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet Jakarta, Jumat 15 Mei 2020. Dokter dan tenaga medis harus dipastikan keamanan APD, mulai dari memakai hingga melepas melalui prosedur yang ketat untuk menghindari tertular virus Covid-19, selain itu petugas medis juga memerlukan usaha yang besar karena harus menahan panas hingga buang air kecil selama kurang lebih 8 jam lamanya. TEMPO/Nurdiansah

    Dokter dan tenaga medis memastikan kenyamanan dan keamanan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum memasuki ruang isolasi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet Jakarta, Jumat 15 Mei 2020. Dokter dan tenaga medis harus dipastikan keamanan APD, mulai dari memakai hingga melepas melalui prosedur yang ketat untuk menghindari tertular virus Covid-19, selain itu petugas medis juga memerlukan usaha yang besar karena harus menahan panas hingga buang air kecil selama kurang lebih 8 jam lamanya. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Adib Khumaidi, mengatakan wabah Covid-19 ini semakin mempertegas posisi dokter di Indonesia dan di seluruh dunia. Dokter bersama tenaga kesehatan menjadi pilar utama, garda terdepan, dan sekaligus benteng terakhir dalam penanganan Covid-19.

    Memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) tiap 20 Mei, IDI meminta para dokter memainkan peran sentral dalam strategi penanganan Covid-19. "Bukan hanya menjadi objek dalam politisasi kesehatan," kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu, 20 Mei 2020.

    Adib menjelaskan dokter bersama seluruh pemangku kebijakan di bidang kesehatan, pemerintah, dan masyarakat harus menyehatkan dan membangun bangsa sebagai upaya terbaik dalam penanganan Covid-19. Penyakit yang tidak mengenal batas kewilayahan serta ancaman dan dampaknya pada semua aspek membutuhkan pendekatan multisektoral.

    "Tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja dan sektor kesehatan tapi perlu juga melibatkan sektor nonkesehatan (kesehatan hewan, pertahanan/TNI, keuangan, swasta, LSM) serta menempatkan masyarakat sebagai garda terdepan di semua level," tuturnya.

    Menurut Adib, dokter selalu berada di tengah-tengah rakyat dalam pembangunan bangsa terutama di masa pandemi virus corona saat ini. Dokter Indonesia telah membuktikan dirinya mempunyai kompetensi profesional dan kemandirian intelektual dalam menangani Covid-19.

    "Dalam pandemi Covid-19 ini dokter Indonesia tidak hanya menjadi agent of treatment tapi juga harus menularkan nilai profesi dan kecendikiawanannya sehingga membuatnya menjadikan agent of mental-social change dan agent of development dalam membantu Negara membuat strategi intervensi penangan pandemi Covid-19 ini," ucap dia.

    Ia mengajak seluruh koleganya untuk memainkan empat peran dokter, yaitu: agent of treatment, agent of change, agent of development, dan agent of defense. Dokter harus berperan menciptakan manusia Indonesia yang sehat, sejahtera, dan produktif. Dokter perlu meningkatkan kemampuan diri serta turut memberikan edukasi pada masyarakat.

    Selain itu, dokter diminta terus berkarya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Terakhir, kata Adib, bersama-sama komponen bangsa lainnya dokter harus berperan menjaga ketahanan nasional untuk mewujudkan kedaulatan bangsa khususnya dalam hal Global Health Security.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.