Covid-19 Jadi Endemik? Pakar Gugus Tugas: Belum Bisa Diprediksi

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Covid-19.

    Ilustrasi Covid-19.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengatakan terlalu dini menilai Covid-19 akan menjadi endemik, seperti HIV. “Saat ini belum bisa diprediksi,” kata Wiku kepada Tempo, Ahad, 17 Mei 2020.

    Wiku mengatakan, belum ada bukti-bukti bahwa Covid-19 atau Corona tidak akan hilang dan menjadi endemik.

    Sebelumnya Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan mengatakan bahwa virus Corona kemungkinan tidak akan pernah hilang. Sehingga, masyarakat harus belajar hidup dengan virus itu. Corona mungkin hanya menjadi virus endemik, seperti HIV.

    Adapun pakar epidemiologi Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif, yakin Covid-19 tidak akan menjadi endemik. Sebab, SARS-CoV-2 (virus Corona penyebab Covid-19) adalah jenis Corona self-limited disease di mana manusia bukan menjadi induk semang alamiahnya.  

    ADVERTISEMENT

    Masa inkubasi virus itu paling cepat 2-14 hari dan tidak menular lewat udara (airborne). Selain itu, virus ini juga bisa dideteksi dengan alat diagnostik yang akurat seperti Polymerase Chain Reaction atau PCR.

    Meski penyakit Covid-19 belum memiliki obat-obatan pilihan dan kasus asimptomatik (tanpa gejala) tinggi di kalangan usia muda, tingkat kesembuhan pasien yang terjangkit di atas 95 persen. Sehingga, Syahrizal yakin penyakit itu tidak akan menjadi endemik. "Tidak mustahil sistem kewaspadaan yang baik dapat mengatasinya," ujar dia. 

    Adapun HIV, kata Syahrizal, merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Saat ini, manusia adalah sumber penularan utama dan sudah menjadi reservoir atau tempat tinggal virus HIV. "HIV bukan self-limited disease dan mempunyai masa inkubasi panjang hingga 15 tahun."

    Menurut Syahrizal, HIV juga tidak memiliki obat pilihan dan vaksin. Namun, pemberian obat ARV bisa meningkatkan kualitas hidup pasien dengan minum obat seumur hidup, dengan tetap membawa virus sepanjang hidupnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.