Epidemiolog UI Yakin Covid-19 Tidak Akan Jadi Endemik Seperti HIV

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja berjalan di jalur pedestrian usai pulang bekerja di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020. Pemerintah memberikan kesempatan kepada masyarakat yang masuk kedalam kategori dibawah usia 45 tahun untuk beraktivitas kembali di masa pandemi COVID-19 sebagai hal untuk mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja atau PHK. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sejumlah pekerja berjalan di jalur pedestrian usai pulang bekerja di kawasan Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2020. Pemerintah memberikan kesempatan kepada masyarakat yang masuk kedalam kategori dibawah usia 45 tahun untuk beraktivitas kembali di masa pandemi COVID-19 sebagai hal untuk mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja atau PHK. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar epidemiologi Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif, meyakini penyakit Covid-19 tidak akan menjadi endemik, seperti HIV. "SARS-CoV-2 (virus Corona penyebab Covid-19) sangat berbeda dengan HIV," kata Syahrizal dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 15 Mei 2020.

    Syahrizal mengatakan, SARS-CoV-2 adalah jenis Corona self-limited disease di mana manusia bukan menjadi induk semang alamiahnya. Masa inkubasi virus tersebut paling cepat 2-14 hari dan tidak menular secara airborne atau menular lewat udara. Selain itu, virus ini juga bisa dideteksi dengan alat diagnostik yang akurat seperti PCR.

    Meski penyakit Covid-19 belum memiliki obat-obatan pilihan dan kasus asimptomatik (tanpa gejala) tinggi di kalangan usia muda, tingkat kesembuhan pasien yang terjangkit di atas 95 persen. Sehingga, Syahrizal yakin penyakit tersebut tidak akan menjadi endemik. "Tidak mustahil sistem kewaspadaan yang baik dapat mengatasinya," ujar dia.

    Namun, untuk negara berpendapatan menengah ke bawah dengan kapasitas laboratorium, kemampuan penelusuran kontak, dan manajemen kasus terbatas, Syahrizal menilai wabah Covid-19 bisa berlangsung lebih lama.

    Adapun HIV, kata Syahrizal, merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Saat ini, manusia adalah sumber penularan utama dan sudah menjadi reservoir atau tempat tinggal virus HIV. "HIV bukan self-limited disease dan mempunyai masa inkubasi panjang hingga 15 tahun," katanya.

    Menurut Syahrizal, HIV juga tidak memiliki obat pilihan dan vaksin. Namun, pemberian obat ARV bisa meningkatkan kualitas hidup pasien dengan minum obat seumur hidup, dengan tetap membawa virus sepanjang hidupnya.

    Selain itu, Syahrizal menjelaskan bahwa HIV merupakan penyakit spesifik bersifat klaster pada kelompok berisiko atau kelompok kunci yang secara sosial bersifat tertutup. Penularan pada masyarakat umum ditandai dari tingginya kasus ibu hamil yang positif HIV.

    Kemudian, deteksi dini dan penelusuran kontak pasien HIV juga menjadi masalah tersendiri karena terkait kelompok kunci. "Hal ini yang menyebabkan HIV sulit dihilangkan dari kehidupan manusia," kata Syahrizal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.