Akurasi Alat Rapid Test yang Dipakai Istana Diduga Rendah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan pemeriksaan cepat COVID-19 (Rapid Test) kepada warga yang terjaring razia pembatasan aktivitas malam hari di Polrestabes Surabaya, Ahad, 3 Mei 2020. Sebanyak 171 orang di wilayah Surabaya, Gresik dan Sidoarjo menjalani rapid test COVID-19 serta pemeriksaan lebih lanjut setelah terjaring razia yang digelar oleh pihak kepolisian tersebut. ANTARA/Didik Suhartono

    Petugas melakukan pemeriksaan cepat COVID-19 (Rapid Test) kepada warga yang terjaring razia pembatasan aktivitas malam hari di Polrestabes Surabaya, Ahad, 3 Mei 2020. Sebanyak 171 orang di wilayah Surabaya, Gresik dan Sidoarjo menjalani rapid test COVID-19 serta pemeriksaan lebih lanjut setelah terjaring razia yang digelar oleh pihak kepolisian tersebut. ANTARA/Didik Suhartono

    TEMPO.CO, Jakarta - Investigasi Majalah Tempo bersama Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) menemukan tingkat akurasi alat tes cepat atau rapid test merek Biozek diragukan. 

    Salah satu yang menggunakan alat tes cepat ini adalah Istana Kepresidenan. Protokoler Istana memakai Biozek untuk mengetes antibodi tamu yang datang. Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono ketika ditanya soal ini hanya menjawab, “Tamu di-rapid test."

    Seorang pejabat negara yang pernah ditemui Tempo pun menggunakan Biozek. Ketika berkunjung ke rumahnya, Tempo mesti menjalani uji cepat dengan alat itu.

    Seperti dikutip dari Majalah Tempo edisi 9 Mei 2020, Kimia Farma telah mengimpor 300 ribu rapid test dengan merek Biozek dari Belanda. 

    Namun Tempo dan OCCRP menemukan jika alat itu diduga diproduksi di Cina oleh Hangzhou AllTest Biotech Co Ltd. Alat tes cepat ini kemudian hanya dikemas ulang dengan merek Biozek oleh Inzek International Trading BV di Apeldoorn, Gelderland, Belanda.

    AllTest, juga Inzek, mengklaim alat uji cepat tersebut memiliki akurasi hingga 92,9 persen untuk mendeteksi immunoglobulin M (IgM) dan 98,6 persen untuk mendeteksi immunoglobulin G (IgG).

    Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian Profesor Sir John Bell dari Oxford University menunjukkan tingkat akurasi peralatan uji cepat itu jauh lebih rendah.

    Buntut dari penelitian ini, Inggris membatalkan pembelian jutaan alat tes asal Cina tersebut. Menanggapi laporan itu, AllTest menyatakan produknya tidak cocok untuk penyaringan awal melainkan sebagai metode tambahan untuk tes lain.

    Hingga Rabu pekan lalu, Kimia Farma telah mendistribusikan 181 ribu alat uji Biozek ke 58 rumah sakit dan 28 Dinas Kesehatan di berbagai wilayah. Baca laporan lengkapnya di Majalah Tempo edisi "Tergelincir di Apeldoorn".


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTUN: Blokir Internet di Papua dan Papua Barat Melanggar Hukum

    PTUN umumkan hasil sidang perihal blokir internet di Papua dan Papua Barat pada akhir 2019. Menteri Kominfo dan Presiden dinyatakan melanggar hukum.