Keluarga Pertanyakan Hak Dua ABK Kapal Cina Long Xin 629

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Potongan gambar dari video kru kapal nelayan Cina yang membuang jenazah ABK Indonesia ke laut.[YouTube MBCNEWS]

    Potongan gambar dari video kru kapal nelayan Cina yang membuang jenazah ABK Indonesia ke laut.[YouTube MBCNEWS]

    TEMPO.CO, Palembang - Kepala Desa Serdang Menang Kecamatan Sirah Pulau Padang OKI, Dodi Yansen mengatakan dua Anak Buah Kapal atau ABK yang meninggal dunia di kapal Cina Long Xin 629 itu Sepri, 26 tahun dan Ari, 25 tahun adalah warganya. Mereka bekerja di kapal melalui agen penyalur tenaga kerja PT Karunia Bahari Samudra yang berkantor di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah dan di pekerjakan di kapal ikan FV LONG XING 629, kemudian dipindahkan ke kapal TIAN YU nomor 8.

    Agen mengabari bahwa Sapri sudah meninggal dunia pada 21 Desember 2019 dan jenazah sudah dilarung. Pada 29 Desember 2019 orang tua korban diminta ke Pemalang. Keluarga berangkat ke Pemalang pada 5 Januari 2020 untuk memastikan kabar kematian itu. Hal yang sama juga terjadi pada Ari. "Keluarga mempertanyakan pernyataan agen penyalur dan hak-hak korban yang belum dipenuhi," kata Dodi, Jumat, 8 Mei 2020.

    Keluarga ABK Ari dan Sapri juga merasa keberatan dengan viralnya video yang menayangkan pemberitaan mengenai penyebab meninggalnya korban yang menyatakan keduanya sakit dan pemakaman dilakukan secara Islam.

    Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) berjanji akan mendampingi keluarga korban. "Kami akan dalami kontrak kerja dua warga kami tersebut," kata Sekretaris Daerah OKI, Husin, Jumat, 8 Mei 2020.

    Husin mengatakan Pemerintah Kabupaten OKI akan meneliti kontrak kerja, dan menggali hak-hak kedua ABK sebagai pekerja, termasuk asuransi dan kecelakaan kerja. "Pemkab akan mendampingi."

    Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan kronologi tiga jenazah anak buah kapal atau ABK Indonesia, yang bekerja di kapal ikan Cina, dilarung di laut. Peristiwa ini viral di media sosial.

    Retno menjelaskan, tiga ABK tersebut merupakan awak kapal pencari ikan Long Xin 629. Pertama, ABK berinisial AR sakit pada 26 Maret 2020. Lantas, yang bersangkutan dipindahkan ke kapal Tian Yu 8 untuk dibawa berobat ke pelabuhan. Belum sampai di pelabuhan, kondisi AR kritis dan meninggal. Jenazah AR dilarung di laut pada 31 Maret 2020.

    “Dari informasi yang diperoleh KBRI, pihak kapal telah memberitahu keluarga dan mendapat surat persetujuan pelarungan di laut. Keluarga sepakat menerima kompensasi kematian dari kapal Tian Yu 8,” ujar Retno dalam konferensi pers via online, Kamis, 7 Mei 2020.

    Adapun dua awak kapal lainnya meninggal saat tengah berlayar di Samudera Pasifik pada Desember 2019. Jenazah mereka juga dilarung di laut karena kematiannya disebabkan penyakit menular.
     

    PARLIZA HENDRAWAN | DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.