Eijkman: Cina dan Kanada Tawarkan Pengembangan Vaksin Covid-19

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang teknisi laboratorium mempersiapkan media tumbuh virus di Eijkman Institute, Jakarta, Indonesia 31 Agustus 2016.  REUTERS/Darren Whiteside

    Seorang teknisi laboratorium mempersiapkan media tumbuh virus di Eijkman Institute, Jakarta, Indonesia 31 Agustus 2016. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio, mengatakan banyak produsen vaksin dari luar negeri termasuk dari Cina , Kanada, dan Eropa menawarkan kerja sama dengan Indonesia untuk pengembangan vaksin Covid-19.

    "Masih akan diteliti dulu mana yang paling cocok untuk Indonesia dan belum tentu vaksin yang dibuat di negara A itu sesuai untuk negara B," kata Kepala Lembaga Eijkman Amin Soebandrio kepada Antara, Jakarta, Rabu, 6 Mei 2020.

    Amin menuturkan, mereka akan membuat konsorsium pengembangan vaksin di Indonesia. Konsorsium ini akan melibatkan sejumlah pihak seperti industri, perguruan tinggi, dan laboratorium lain.

    Menurut dia, pengembangan vaksin di Indonesia akan memanfaatkan potensi dan sumber daya dalam negeri.

    Tawaran dari luar tersebut, kata dia, harus dicermati dan dianalisa lebih lanjut agar Indonesia tidak hanya menjadi tempat uji klinis vaksin dari luar negeri.

    "Hingga saat ini Eijkman belum bekerja sama dengan pihak luar negeri untuk pengembangan vaksin di Indonesia," katanya.

    Amin menuturkan, jika hanya bekerja sama dengan mitra luar negeri untuk menggunakan vaksin impor, maka kegiatan itu hanya menjadikan Indonesia sebagai lahan uji klinis vaksin.

    "Memang kalau kita mau gampang memang enak tinggal ambil dari luar negeri saja tetapi biasanya kita hanya dijadikan lahan untuk uji klinis, masalahnya tidak terjadi transfer teknologi jadi kita tidak dapat apa-apa, cuma ya kalau hasilnya bagus kita tetap harus beli," kata Amin.

    Menurut Amin, jika ada mitra baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin bekerja sama dalam pengembangan vaksin, maka diharapkan mereka tidak menjadikan Indonesia hanya sebagai tempat uji klinis.

    "Indonesia harus terlibat dari proses hulu hingga hilir dalam pengembangan vaksin dalam negeri, yang mana harus ada transfer teknologi di dalamnya," katanya.

    Ia menegaskan, pengembangan vaksin itu juga harus secara spesifik menyasar pada virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang beredar di Indonesia dan bukan yang ada di negara lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.