Absen Pemeriksaan Pertama, Polisi Panggil Lagi Said Didu

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu bersalaman dengan Kuasa Hukum Jokowi - Maaruf Amin usai memberikan kesaksiannya pada sidang lanjutan terkait Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) 2019 dengan agenda mendengarkan kesaksian di MK, Jakarta, Rabu, 19 Juni 2019.  TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu bersalaman dengan Kuasa Hukum Jokowi - Maaruf Amin usai memberikan kesaksiannya pada sidang lanjutan terkait Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) 2019 dengan agenda mendengarkan kesaksian di MK, Jakarta, Rabu, 19 Juni 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Markas Besar Kepolisian RI bakal menerbitkan surat panggilan pemeriksaan kedua kepada mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, terkait kasus dugaan pencemaran nama baik terhadap Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

    Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri Komisaris Besar Asep Adi Saputra menuturkan, panggilan kedua dilayangkan lantaran Said Didu tak hadir dalam pemeriksaan pertama pada 4 Mei 2020.

    "Setelah tanggal 4 Mei tidak hadir sebagaimana surat panggilan dengan alasan ketentuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan physical distancing, maka kemudian selanjutnya penyidik akan menerbitkan panggilan ke dua," kata Asep melalui konferensi pers daring pada Selasa, 5 Mei 2020.

    Sebelumnya, Said Didu meminta penjadwalan ulang pemeriksaannya. Kuasa hukum Said Didu, Letnan Kolonel CPM (Purn) Helvis, meminta agar pemeriksaan itu ditunda mengingat status PSBB yang saat ini sedang diterapkan.

    "Pak Said Didu tidak bisa hadir, makanya saya mewakili untuk koordinasi dengan penyidik minta menjadwalkan ulang," kata Helvis kepada wartawan pada 4 Mei 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.