Transpuan Jadi Korban Prank, Aktivis: Masyarakat Harus Diedukasi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi transpuan. REUTERS

    Ilustrasi transpuan. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktivis queer dan perempuan, Lini Zurlia, meminta pemerintah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menghargai manusia tanpa memandang identitas. Desakan ini muncul menyusul insiden seorang YouTuber, Ferdian Paleka, yang mengerjai (prank) seorang transpuan atau waria.

    Dalam videonya, Ferdian dan kawannya membagikan kardus mie instan yang telah diisi batu dan sampah kepada transpuan di Bandung, Jawa Barat.

    "Setidaknya basic human decency yang secara natural dimiliki oleh setiap manusia itu ya harus diasah dan dipraktikkan sehari-hari," kata Lini saat dihubungi, Senin 4 Mei 2020. Bila edukasi telah dilakukan tapi masih ada yang membandel, Lini mengatakan pelaku harus diberi efek jera.

    Adapun prank terhadap transpuan ini, kata Lini, mencerminkan kondisi masyarakat Indonesia yang menganggap wajar untuk mengolok-olok waria. Menurut dia, hal ini juga jadi dasar kenapa konten prank tersebut laris.

    "Lihat saja, konten-konten yang ia (Ferdian) buat adalah merendahkan martabat kemanusiaan tapi bisa punya puluhan ribu pelanggan dengan ratusan ribu penonton. Artinya ya memang begitulah kondisi kehidupan kita, masih enggan memanusiakan sesama manusia," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.