Pengamat Terorisme: Boy Rafli Perlu Prioritaskan Soft Approach

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anggota teroris. shutterstock.com

    Ilustrasi anggota teroris. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat terorisme dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, berharap Boy Rafli Amar, sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT yang baru, memprioritaskan aspek pencegahan. "Langkah shoft approach perlu menjadi prioritas. Meski harus melakukan hard aproach dengan law enforcement maka perlu kontrol ketat agar aparat dilapangan tidak over eksesif," kata Harits pada Sabtu, 2 Mei 2020.

    Apalagi, kasus extra-judicial killing atau pembunuhan di luar putusan pengadilan yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap orang-orang yang diduga terlibat kejahatan, sudah memakan korban lebih dari 150 terduga teroris.

    Sikap aparat kepolisian itu tanpa disadari memantik dendam oleh para terduga teroris. Maka tak heran, dalam 10 tahun terakhir, aksi teror target adalah pihak aparat kepolisian.

    "Alasan selama ini karena polisi menggagalkan tujuan kelompok teroris, atau karena dianggap thogut, tapi mengabaikan faktor ideologi dendam karena faktor kekerasan-kekerasan yang berkelindan dalam proyek kontra terorisme," kata Harits.

    Selain itu, Boy Rafli Amar dinilai mumpuni di bidang kehumasan, dapat menjadi modal untuk membangun komunikasi publik. Sebab, Harits menilai, di era Suhardi Alius, pejabat BNPT kerap melontarkan pernyataan yang memicu perdebatan, bahkan mengundang kritik keras dari berbagai pihak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.