Begini Penjelasan Kemenkes tentang Alur Pengelolaan Data COVID-19

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Pusat dan Informasi Kementerian Kesehatan Didik Budijanto memastikan pemerintah terbuka atas data COVID-19 yang disampaikan kepada masyarakat. “Terus terang saja tidak ada yang ditutupi,” kata Didik dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Selasa, 28 April 2020.

    Didik mengatakan, jika ada data yang berbeda, hal itu bisa terjadi karena pengiriman data ketika cut-off point time, yaitu pada pukul 12.00. Sehingga, data yang disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, merupakan data yang masuk hingga pukul 12.00.

    Proses pengelolaan data COVID-19 ini, kata Didik, dimulai dari pengumpulan data spesimen dari laboratorium-laboratorium jejaring Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes. Data akan dikompilasi di Balitbangkes dan divalidasi karena ada beberapa orang yang kemungkinan pemeriksaan spesimennya bisa 2-4 kali. 

    Setelah divalidasi oleh Balitbangkes, data selanjutnya dikirim ke Public Health Emergency Operating Center (PHEOC) Kemenkes. Selain data dari Balitbangkes, PHEOC juga menerima data dari dinas kesehatan di daerah terkait penelusuran epidemiologi.

    “Mereka berproses melakukan validasi dan verifikasi sampai muncul berapa jumlah spesimen diperiksa, berapa orang diperiksa sampai muncul positif, negatif,” ujar Didik. Setelah itu, data akan masuk ke Pusat Data Informasi Kemenkes untuk diverifikasi dan validasi akhir. Sehingga, data yang diterima Achmad Yurianto merupakan data COVID-19 yang sudah pasti dan sudah terintegrasi dengan Gugus Tugas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.