Simak Alasan Singapura Berlakukan Circuit Breaker Covid-19

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penumpang yang tiba dari Batam, Indonesia, melewati stasiun pemeriksaan suhu di Singapore Cruise Centre, setelah wabah virus Corona (COVID-19) di Singapura 5 Maret 2020. [REUTERS / Edgar Su]

    Penumpang yang tiba dari Batam, Indonesia, melewati stasiun pemeriksaan suhu di Singapore Cruise Centre, setelah wabah virus Corona (COVID-19) di Singapura 5 Maret 2020. [REUTERS / Edgar Su]

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Bioteknologi A-STAR Singapura, Samira Husen Alamudi, menceritakan alasan Pemerintah Singapura mengambil langkah circuit breaker (lockdown parsial) pada 17 April 2020 untuk mengatasi Covid-19.

    Dia menuturkan bahwa beberapa hari sebelumnya terjadi kenaikan pasien Covid-19 yang signifikan sampai di atas 1.000 kasus per-hari.

    "Sangat mengagetkan," ucap Samira melalui diskusi daring pada hari ini, Sabtu, 25 April 2020.

    Menurut Samira, sebagian besar kasus Covid-19 tersebut terjadi di lingkungan permukiman padat buruh migran. Mereka memang tinggal agak jauh dari lokasi pusat perkotaan.

    Diduga para buruh tersebut kurang memiliki kesadaran terhadap kebersihan.

    Atas sejumlah alasan itulah, Samira melanjutkan, Pemerintah Singapura mengambil kebijakan melakukan circuit breaker atau karantina parsial wilayah sejak 17 April sampai 1 Juni 2020.

    Hingga saat ini, kasus terkonfirmasi Covid-19 di Singapura mencapai 12.075 dengan 956 orang sembuh dan 12 meninggal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.