Mengenang Arief Budiman, Simpul Demonstran Angkatan 66

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Arief Budiman, kakak Soe Hok Gie. Facebook

    Arief Budiman, kakak Soe Hok Gie. Facebook

    Jakarta – Jika ada hal yang paling ditakuti Arief Budiman, itu adalah roh halus dan tempat angker. Aktivis angkatan 66 ini lebih berani menentang kediktaktoran pemerintahan Orde Baru ketimbang harus berjalan lewat kuburan sendirian. "Dia itu tidak takut menghadapi siapapun, termasuk para jenderal di masa Orde Baru. Tapi kalau malam-malam lewat dekat kuburan, dia minta diantar," kata sosiolog Ariel Heryanto sambil tertawa.

    Meski kadang berbeda dalam sejumlah hal, Ariel mengenang Arief sebagai mentor dan sahabat yang baik. Keduanya berkawan dekat selama menjadi pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga sejak 1980. Tak hanya sebagai kawan, Ariel juga menilai Arief adalah seorang aktivis dan intelektual publik yang sangat ramah dan rendah hati. "2018 saya menengoknya di rumah dia di Salatiga. Dia sempat menggoda saya dengan canda, walaupun kesulitan untuk berbicara," ujarnya.

    Ariel tak menyangka itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Arief. Di pertemuan itu, menurut Ariel, kesehatan Arief terlihat sudah sangat lemah. Selama lebih dari 10 tahun Arief mengidap sindrom parkinson. Simpul demonstran di era Orde Baru itu mengembuskan nafas terakhir di usianya yang ke-79 di Rumah Sakit Ken Saras, Salatiga, Jawa Tengah, pada 23 April 2020. Arief meninggalkan seorang istri, dua anak, dan empat cucunya.

    Lahir pada 3 Januari 1941 dengan nama Soe Hok Djin, Arief mengawali karirnya sebagai aktivis dengan berkecimpung di dunia pers. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini pernah menjadi redaktur majalah Horison, anggota Badan Sensor Film, dan anggota Dewan Kesenian Jakarta pada waktu yang bersamaan. Ia mencetuskan gerakan Golongan Putih untuk melawan pemilihan umum di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto yang sarat korupsi. Ia juga pernah ditahan karena terlibat dalam demonstrasi menentang pendirian Taman Mini Indonesia Indah pada 1972 lantas menjadi pengangguran.

    Setelah kehilangan semua pekerjaannya, Arief meneruskan kuliahnya di Paris pada 1972 dan meraih gelar Ph.D dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard pada 1980. Kembali dari Harvard, ia menjadi pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana. Namun, pada 1994, ia dipecat karena memprotes pemilihan rektor yang dianggap tak adil. Ia pun hengkang ke Australia dan menerima tawaran mengajar di Universitas Melbourne.

    Terlalu banyak hal yang berkesan dari sosok Arief bagi Ariel. Tak hanya kepada sahabat dekatnya, kesan baik Arief juga melekat di benak murid-muridnya. Yosep Stanley Adi Prasetyo, salah satu murid Arief di Universitas Kristen Satya Wacana, merasa sangat kehilangan atas kepergian kakak aktivis Soe Hok Gie itu. Baginya, Arief bukan sekadar guru, melainkan juga seorang aktivis, pemikir, penulis, dan sahabat yang baik. Sepanjang hidupnya, Stanley mengenal Arief sebagai orang yang tak hanya pintar berteori, tapi juga mempraktikkan betul konsistensi kata-kata yang diucapkan. “Arief adalah sosok pemikir besar,” ujar mantan Ketua Dewan Pers itu.

    Stanley juga mengenal Arief sebagai sosok yang humanis. Ia tak hanya berkawan baik dengan para aktivis yang memiliki satu pemikiran, Arief juga berkawan dengan bekas musuh-musuhnya. Ia menentang keberadaan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang pendiriannya diinisiasi tokoh Partai Komunis Indonesia D.N Aidit. Tapi ia juga membantu Pramoedya Ananta Toer, aktivis Lekra, menerbitkan tulisan-tulisannya setelah keluar dari tahanan Pulau Buru. Pemikiran-pemikiran Arief banyak tertuang dalam artikel di media cetak. Ia menggagas ide tentang sastra kontekstual dan meneliti tentang transmigrasi di Indonesia.

    Di mata peneliti Human Right Watch Andreas Harsono, Arief adalah seorang dosen yang berhasil menyulap mata kuliah yang kaku menjadi luar biasa menarik. Arief Budiman, kata dia, mengajarkan tentang kemiskinan struktural hingga diskriminasi perempuan dalam mata kuliah ilmu sosial dasar. Pemikiran-pemikiran yang ditulisnya mampu menggerakkan mahasiswa untuk turun ke jalan memprotes pemilihan rektor pada 1994. “Dia bukan tipe yang demo di tengah mahasiswa. Tapi dia menulis. Dari 8.000 mahasiswa, ada 5.000 yang demo karena itu,” kata Andreas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.