43 Santri Temboro asal Malaysia Kena Corona, Bupati Magetan Kaget

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Malaysia menjalani Rapid Test saat tiba di kedatangan Internasional Terminal 2 Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa 7 April 2020. Sebanyak 156 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Malaysia yang pulang ke Jawa Timur menjalani rapid test untuk pencegahan penyebaran corona virus atau COVID-19. ANTARA FOTO/Umarul Faruq

    Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Malaysia menjalani Rapid Test saat tiba di kedatangan Internasional Terminal 2 Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa 7 April 2020. Sebanyak 156 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Malaysia yang pulang ke Jawa Timur menjalani rapid test untuk pencegahan penyebaran corona virus atau COVID-19. ANTARA FOTO/Umarul Faruq

    TEMPO.CO, Jakarta-Bupati Magetan Suprawoto langsung menggelar rapat koordinasi setelah muncul kabar dari Malaysia bahwa 43 pelajar positif terinfeksi virus corona sepulang dari Pondok Pesantren Temboro, Kabupaten Magetan. Menurut dia, kabar itu mengejutkan karena selama ini tidak ada informasi mengenai tambahan pasien positif corona dari pesantren tersebut.

    “Pagi ini kami langsung menggelar rapat, hasilnya nanti kami sampaikan. Selama kami rapat, petugas di lapangan akan melakukan rapid test di pesantren itu,” kata Suprawoto saat dihubungi, Senin, 20 April 2020.

    Suprawoto awalnya ragu dengan berita yang dilansir pejabat Malaysia. Dia menduga media Malaysia salah persepsi. Yang benar, menurutnya, 43 pelajar itu baru pulang dari Magetan, salah satu kabupaten di Jawa Timur yang masuk zona merah corona, sehingga dikarantina sesampainya di Negeri Jiran.

    Suprawoto pun sempat menelepon Kepala Biro Antara Kuala Lumpur untuk memastikan kebenaran berita tersebut.  Antara memastikan bahwa medianya tak salah kutip. “Kalau begitu, kami langsung bergerak,” kata Suprawoto.

    Suprawoto menuturkan sejatinya petugas telah mengisolasi Pesantren Temboro karena santri yang datang berasal dari beberapa negara. Selain itu, jamaah di pesantren itu juga banyak.  Jalan di depan pondok, ujar Suprawoto,  telah ditutup sejak ditemukan pasien positif corona di Magetan. “Jadi untuk Pesantren Temboro sendiri sebenarnya telah kami lakukan lockdown lokal, dan sejauh ini tidak ada laporan positif corona,” ujar Suprawoto.

    Sehari sebelumnya Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM) mengumumkan klaster baru orang-orang yang terjangkit Covid-19 dari pelajar Malaysia yang baru pulang dari sebuah pesantren di Temboro, Magetan , Jawa Timur.

    "Sebuah klaster baru telah dideteksi di pintu masuk internasional, yaitu warga Malaysia yang pulang dari Indonesia melalui Lapangan Terbang Kuala Lumpur (KLIA) pada 16 April 2020," ujar Direktur Jenderal Kesehatan KKM Dr Noor Hisham Abdullah di Kuala Lumpur seperti dikutip Antara, Minggu, 19 April 2020.

    Klaster itu terdiri dari 43 orang yang dinyatakan positif Covid-19 di kalangan pelajar yang pulang dari Temboro, salah satu daerah yang telah dinyatakan sebagai zona merah di daerah Magetan. "Masih terdapat beberapa kasus yang masih menunggu keputusan," katanya.

    Dia mengatakan sebanyak 34  orang dari keseluruhan 43 kasus tersebut  telah dikarantina di Negara Bagian Melaka dan sembilan orang di Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur dan Putrajaya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.