Epidemiolog UI Ragukan Kriteria Sembuh Covid-19 Versi Gugus Tugas

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Pengajar statistik epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono, mempertanyakan angka pasien sembuh Covid-19 yang dalam tiga hari ini lebih tinggi dari kematian. “Kriteria sembuhnya apa?” kata Pandu kepada Tempo, Sabtu, 18 April 2020.

    Pandu mengatakan, laporan yang disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengenai angka kesembuhan pasien Covid-19 masih belum jelas. Ia mengatakan perlu ada klasifikasi mengenai kesembuhan yang dialami pasien tersebut.

    Seharusnya, kata dia, pemerintah memaparkan kriteria kesembuhan. Misalnya, pasien yang sebelumnya mengalami kondisi berat lalu menjadi ringan atau kesembuhan yang dialami mereka yang membawa virus namun tidak memiliki gejala atau gejalanya ringan.

    Pasien yang dikatakan sembuh, kata Pandu, bisa juga karena pemeriksaan swab-nya negatif. “Kalau itu dilaporkan dari sekian yang dirawat di rumah sakit yang (kondisi) berat ini sembuh, itu kemajuan. Berhasil hidup keluar,” ujarnya.

    Sudah tiga hari terakhir, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyebut pasien sembuh lebih banyak dari meninggal. Pada Sabtu, 18 April 2020, Gugus Tugas menyebut 24 pasien sembuh sementara meninggal terdata 15 kasus.

    Berdasarkan data kumulatif dari Kementerian Kesehatan kasus positif baru tercatat 325 kasus sehingga total mencapai 6.248 kasus, sementara 631 pasien sembuh, dan 535 meninggal dunia. 

    Pada Jumat, 17 April 2020, Gugus Tugas melaporkan sebanyak 5.923 kasus infeksi, dengan 607 kasus sembuh dan 520 kasus kematian. Sementara itu, pada Kamis, 16 April 2020, ada 5.516 kasus positif virus Corona, 548 sembuh, dan 496 meninggal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.