SMRC: 52 Persen Responden Anggap Pusat Gerak Cepat Soal Covid-19

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tes cepat (rapid test) COVID-19. (ANTARA/HO-Pokja Jakarta Selatan

    Ilustrasi tes cepat (rapid test) COVID-19. (ANTARA/HO-Pokja Jakarta Selatan

    TEMPO.CO, Jakarta - Survei terbaru lembaga Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) mengungkapkan ada perbedaan tipis di tengah masyarakat dalam menyikapi kecepatan pemerintah menangani wabah Covid-19. Dalam survei diketahui 52 persen warga menilai pemerintah pusat bertindak cepat. Sedangkan yang menganggap lambat sebesar 41 persen dan tidak menjawab 7 persen.

    Warga hampir terbelah dalam menilai kecepatan pemerintah pusat menangani Covid-19. “Dengan margin of error 2,9 persen, mayoritas warga tidak konklusif bersikap positif.” Demikian kesimpulan laporan survei SMRC yang diterima Tempo, Jumat, 17 April 2020.

    SMRC melakukan survei pada 9-12 April 2020 terhadap 1200 responden yang diwawancarai melalui telepon yang dipilih secara acak, dengan margin of error 2,9 persen.

    Warga yang merasa pemerintah pusat bertindak cepat mayoritas berasal dari Jawa Tengah (61 persen) dan Jawa Timur (61 persen). Sedangkan di DKI Jakarta (54 persen) dan di Jawa Barat (41 persen).

    Menurut survei SMRC ini, mayoritas warga menilai pemerintah daerah lebih cepat bersikap dalam menangani Covid-19. Sebanyak 59 persen warga menganggap pemerintah provinsi cepat bertindak. Hanya 35 persen yang merasa lambat.

    Lebih rinci, mayoritas warga Jawa tengah (73 persen), Jawa Timur (68 persen) dan DKI Jakarta (62 persen) menilai pemerintah provinsi bergerak cepat menghadapi wabah Covid-19. "Di Jawa Barat hanya 39 persen warga menganggap pemerintah provinsi bergerak cepat." Begitu survei menyimpulkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.