Sunyi di Pemakaman Pasien Covid-19

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemakaman jenazah dengan protokol pasien Virus Corona. REUTERS/Willy Kurniawan

    Pemakaman jenazah dengan protokol pasien Virus Corona. REUTERS/Willy Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah menetapkan semua pasien meninggal yang memiliki gejala Covid-19 harus dimakamkan dengan protokol ketat. Pemerintah DKI Jakarta bahkan menetapkan Tempat Pemakaman Umum Pondok Ranggon, Jakarta Timur, dan TPU Tegal Alur di Jakarta Barat sebagai pemakaman khusus pasien Covid.

    Bambang Purnomo, salah satu keluarga dari pasien Covid-19 yang meninggal bercerita bagaimana "sepinya" pemakaman dengan protokol ini.  

    Keinginan Bambang Purnomo Sidik melihat jasad sang anak, dokter Ratih Purwarini, untuk terakhir kalinya sirna saat ia memasuki kamar jenazah Rumah Sakit Pelni, Jakarta Barat, pada Selasa, 31 Maret 2020. Di ruangan itu, ia menyaksikan petugas rumah sakit sedang memaku penutup peti mati tempat jasad anaknya terbaring. 

    Bambang pun masih bisa mendengar suara palu menghantam peti saat ia menandatangani surat pernyataan kematian di ruangan yang ada di sebelah kamar jenazah. “Petinya sedang dipaku, kalau belum saya juga mau lihat,” kata Bambang menceritakan ulang peristiwa itu, pada Senin, 13 April 2020.

    Berstatus pasien dalam pengawasan (PDP), Ratih dimakamkan dengan protokol Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum Tegal Alur, Jakarta Barat pada hari itu juga. 

    Bambang, istrinya Nina Widyawati, dan dua anak Ratih hanya bisa melihat jasad Direktur Rumah Sakit Duta Indah, Jakarta Utara itu dari jarak 50 meter. Sebelum liang lahat itu diuruk, anak bungsu Ratih, Firos mendekat untuk melantunkan azan. Bambang dan keluarganya baru diperbolehkan mendekat setelah proses penguburan selesai.

    Bambang bercerita sang anak sudah mengeluh tak enak badan sejak Kamis, 19 Maret 2020. Kemudian, ia dirawat di Rumah Sakit Eka Hospital, BSD, Tangerang Selatan pada Selasa, 24 Maret 2020. Di sana, ia sempat menjalani tes untuk memastikan apakah dirinya mengidap terpapar virus Corona atau tidak.

    Pada Sabtu, 28 Maret, rumah sakit menyatakan kondisi Ratih kritis. Keluarga menyebut rumah sakit kesulitan karena tak memiliki ventilator atau alat bantu pernafasan.

    Ratih sempat akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. Namun karena penuh, ia akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat. Ratih dibawa sudah dalam kondisi kritis.

    Nina Widyawati, ibunda Ratih mengatakan, pada 31 Maret pagi, dokter meminta keluarga bersiap-siap menghadapi situasi terburuk. "Manusia kan berharap ada mujizat, tapi, ya....," kata Nina, tak melanjutkan kalimatnya.

    Namun, hingga meninggal keluarga tak kunjung mendapatkan hasil tes apakah Ratih positif Covid-19 atau tidak. Baru belakangan, sang Ibu mendapatkan informasi bahwa anak sulungnya itu positif mengidap Covid-19. “Saya tahu dari relasi,” kata Nina. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga telah mengkonfirmasi bahwa Ratih positif mengidap Covid-19.

    Ratih merupakan satu dari ratusan pasien yang dimakamkan dengan protokol Covid-19. Baca cerita lengkap bagaimana tingginya angka kematian selama pandemi Corona di DKI Jakarta dalam liputan khusus Tempo Interaktif "Sunyi di Pemulasaran".


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.