Komnas Perempuan: Mugshot Challenge Tak Sensitif Pada Korban

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penyintas, simpatisan, dan pendamping korban kekerasan seksual dari Gerakan Umat Lintas Iman Jawa Barat melakukan aksi unjuk rasa di Bandung, Rabu, 25 September 2019. Menurut data BPS dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 33,4 persen perempuan di Indonesia mengalami kekerasan dengan kekerasan seksual menempati posisi tertinggi. TEMPO/Prima mulia

    Sejumlah penyintas, simpatisan, dan pendamping korban kekerasan seksual dari Gerakan Umat Lintas Iman Jawa Barat melakukan aksi unjuk rasa di Bandung, Rabu, 25 September 2019. Menurut data BPS dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 33,4 persen perempuan di Indonesia mengalami kekerasan dengan kekerasan seksual menempati posisi tertinggi. TEMPO/Prima mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisioner Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Siti Aminah Tardi, menilai mugshot challenge tak sensitif pada korban kekerasan. Menurut Siti, tantangan tersebut membuat kekerasan seolah-olah 'dirayakan'.

    "Menurut saya tantangan tersebut tidak sensitif terhadap korban, karena seakan-akan penganiayaan atau KDRT seperti 'dirayakan' dengan ber-make up demikian," ujar Siti kepada Tempo, Ahad, 12 April 2020.

    Mugshot challenge menjadi tren di Instagram baru-baru ini, yakni tantangan agar pengguna merias wajah seakan penuh luka, misalnya lebam atau berdarah. Para pengguna Instagram yang mengikuti tantangan tersebut kemudian mengunggah foto wajah hasil riasan dengan menulis tanda pagar (hashtag) mugshotchallenge.

    Mugshot sendiri merupakan foto tampak depan dan samping yang diambil oleh tim kepolisian untuk proses identifikasi.     

    Dari pengamatan Tempo, tantangan ini diikuti oleh baik perempuan maupun laki-laki. Namun unggahan-unggahan tersebut lebih banyak dari pengguna perempuan. Beberapa menulis caption seperti 'korban kekerasan dalam rumah tangga', 'KDRT', 'digebukin mantan', atau 'I am in love with criminal' (saya jatuh cinta dengan seorang kriminal).

    Siti mengatakan, unggahan-unggahan tersebut juga berpotensi menghilangkan kepekaan terhadap kekerasan yang sebenarnya. Bisa saja, kata dia, orang tak percaya jika nanti ada korban yang mengunggah foto luka yang sebenarnya atau memperlihatkannya ke orang lain.

    Siti mengakui, sebagai ekspresi tantangan mugshot challenge itu tak bisa dilarang. Namun ia berpendapat, yang perlu dibangun dari publik adalah kepekaan dan kontrol diri termasuk dalam mengikuti tantangan ini.

    Siti pun menyarankan agar warganet memilih tantangan yang lebih mempertimbangkan perasaan korban dan keberpihakan untuk menghapus kekerasan. "Dengan memilih tantangan yang tidak mengandung pembenaran terhadap kekerasan, berarti kita menghentikan budaya kekerasan," ujar Siti.

    Merujuk Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2020, terjadi 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2019. Angka ini meningkat enam persen dari tahun sebelumnya, dan naik delapan kali lipat dalam 12 tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekaman 8 Menit 46 Detik Drama Kematian George Floyd

    Protes kematian George Floyd berkecamuk dari Minneapolis ke berbagai kota besar lainnya di AS. Garda Nasional dikerahkan. Trump ditandai oleh Twitter.