Sosiolog Kritik Cara Jokowi Bagi Sembako saat Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersiap memberikan keterangan setelah meninjau Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau, Rabu, 1 April 2020. Pembangunan proyek ini sempat molor karena semua ditargetkan dapat beroperasi pada 28 Maret lalu. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersiap memberikan keterangan setelah meninjau Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau, Rabu, 1 April 2020. Pembangunan proyek ini sempat molor karena semua ditargetkan dapat beroperasi pada 28 Maret lalu. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Sosiolog dari Universitas Indonesia Imam Prasodjo, mengkritik metode pembagian sembako Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang dilakukan sembarangan.

    Ia menilai pembagian sembako tersebut justru menimbulkan kerumunan warga, yang berpotensi memperluas penularan Covid-19. "Belajar dari kejadian sebelumnya, pembagian bantuan seperti cara ini bahkan dapat mengakibatkan massa berdesakan, berhimpitan, dan mengorbankan warga," ujar Imam Ahad, 12 April 2020.

    Imam meihat hal ini dalam penyaluran bantuan Jokowi yang dilakukan pada pengendara Ojek Online yang berdiri di jalan di daerah Jakarta Pusat. Selain itu, belakangan Jokowi juga dikabarkan membagikan sembako di sekitar Istana Bogor, Jawa Barat, yang mengakibatkan kerumunan warga.

    Imam mengerti jika tujuan dari Jokowi adalah baik dan melakukan inisiatif dalam melakukan aksi kepedulian. Ia menegaskan tujuan Presiden patut dipuji. Meski begitu, ia meminta agar ke depannya Jokowi tak lagi melakukan pembagian bantuan dengan cara ini.

    Ia mengusulkan pembagian bantuan dilakukan secara "door to door" langsung ke rumah sasaran. "Seperti pernah saya usulkan sebelumnya, penyaluran bantuan bisa menggunakan tenaga Ojek Online atau Mobil Online dengan aplikasi yang telah banyak tersedia," kata dia.

    Sebagai peta dasar untuk sebaran bantuannya, Imam mengatakan Geographical Information System (GIS) sudah tersedia. Ia mencontohkan peta pelanggan listrik PLN 450 VA yang sudah dilengkapi titik koordinat. Dari peta dasar ini, para pelanggan PLN yang diduga sebagian besar adalah warga pra-sejahtera, dapat diverifikasi, dilengkapi dan diperbaiki.

    Ia mengatakan dengan peta sasaran yang valid sesuai tujuan, paket-paket bantuan dapat segera disalurkan. Untuk Jakarta, PD Pasar Jaya, kata dia, seharusnya telah siap dijadikan pemasok paket-paket sembako.

    "Saya yakin, sistem penyaluran seperti ini dapat dikembangkan lebih baik dengan melibatkan ahli IT, aktivis sosial, dan para petugas lapang dan banyak lagi, yang telah banyak pengalaman dalam penyaluran bantuan saat terjadi bencana," kata Imam.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.