Survei: 140 Perawat Merasa Dipermalukan karena Tangani Covid-19

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Artis Mona Ratuliu mengunggah foto utk merespons penakan jenazah perawat Corona. Foto/Instargram/Monaratuliu

    Artis Mona Ratuliu mengunggah foto utk merespons penakan jenazah perawat Corona. Foto/Instargram/Monaratuliu

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil survei Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia menunjukkan sebanyak 140 perawat pernah merasa dipermalukan oleh orang lain, karena statusnya sebagai perawat Covid-19 atau bertugas di rumah sakit tempat penanganan Covid-19.

    “Survei ini membuktikan adanya penolakan terhadap perawat yang selama ini diberitakan media,” kata Ketua Divisi Penelitian Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia Herni Susanti, dalam siaran tertulisnya, Sabtu, 11 April 2020.

    Jajak pendapat yang dilakukan pada awal April 2020 terhadap 2.050 perawat se-Indonesia ini juga menunjukkan, 135 perawat pernah diminta meninggalkan tempat tinggalnya.

    Herni mengatakan, menurut survei, bentuk nyata penolakan yang dialami perawat antara lain ancaman pengusiran (66 responden), orang-orang di sekitar menghindar dengan menutup pagar rumah atau pintu mereka ketika melihat perawat (160 responden), dan masyarakat ikut menjauhi keluarga perawat (71 responden).

    Menurut Herni, stigmatisasi terhadap perawat Covid-19 ini dapat menimbulkan masalah psikososial, seperti stres, sedih, dan malu. “Alih-alih merasa bangga menjadi pahlawan, banyak perawat justru memilih menyembunyikan status sebagai perawat,” katanya.

    Perawat yang terkena stigma ini juga memikirkan bagaimana dampak buruk yang akan dihadapi keluarga dan orang-orang terdekat, karena mereka ikut diejek dan dijauhi.

    Herni mengatakan, ada sejumlah upaya yang dapat dilakukan untuk menghentikan stigma tersebut. Misalnya menyebarkan fakta dan bukan mitos. Sebab, stigma dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang penyakit Covid-19 ditularkan dan diobati, serta dicegah.

    Upaya lainnya dengan melibatkan tokoh sosial, seperti pemimpin agama untuk menyadarkan masyarakat tentang akibat serius dari stigmatisasi terhadap perawat dan tenaga kesehatan lainnya. “Bantuan selebriti yang disegani juga dapat dilakukan untuk memperkuat pesan untuk mengurangi stigma,” ujar Herni.

    Herni juga meminta adanya pemberitaan seimbang oleh media secara kontekstual, menyebarkan informasi berbasis bukti, dan membantu memerangi informasi yang salah.

    Selanjutnya, membangun jaringan dukungan masyarakat untuk menunjukkan kepedulian dan empati untuk perawat dan tenaga kesehatan lain yang bertugas.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.