Netizen Laporkan Suara Dentuman di Jakarta Hingga Bogor

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Anak Krakatau dan gugusan pulau vulkanik di sekitarnya di Kepulauan Krakatau, yang diambil pada 11 Januari 2019. Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 diduga menyebabkan tsunami di Selat Sunda. REUTERS/DigitalGlobe

    Gunung Anak Krakatau dan gugusan pulau vulkanik di sekitarnya di Kepulauan Krakatau, yang diambil pada 11 Januari 2019. Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 diduga menyebabkan tsunami di Selat Sunda. REUTERS/DigitalGlobe

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah netizen melaporkan ada suara dentuman keras yang membuat jendela dan pintu rumah bergetar. Suara dentuman itu terdengar oleh netizen yang tinggal di Jakarta, Depok, Bogor hingga Kuningan, Jawa Barat.

    “Saya di Kabupaten Bogor masih mendengar suara dentuman itu. Apa ada kaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau?” kata seorang netizen bernama Rahmat lewat cuitan kepada akun @BNPB_Indonesia pada Sabtu, 11 April 2020.

    Netizen lainnya yang menggunakan nama Wu meminta akun @BNPB_Indonesia untuk menjelaskan penyebab suara dentuman yang terdengar.

    “Apa bener ini karena erupsi Krakatau? Atau gimana?,” kata dia.

    Netizen lainnya yang menggunakan nama Ikbal mengatakan suara dentuman itu masih terasa hingga pukul 2.23, Sabtu, 11 April 2020.

    Seorang netizen yang mengaku tinggal di daerah Anyer mengaku tidak mendengar suara dentuman ini.

    “Di Anyer malah tidak terdengar kaya gituan,” kata netizen yang menggunakan nama Cher.

    Netizen bernama Anissa mengaku mendengar suara dentuman itu di daerah Cililitan, Jakarta Timur. “Terdengar beberapa kali sekitar jam setengah tiga,” kata dia saat mention akun BNPB.

    Seperti dilansir sebelumnya, akun Twitter BNPB melansir Gunung Anak Krakatau mengalami letusan atau erupsi pada Jumat, 10 April 2020 pukul 21.58 WIB.

    Tinggi kolom abu mencapai sekitar 200 meter dari puncak atau 357 meter di atas permukaan laut.

    “Telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau, Lampung,” kata Fahrul Roji, petugas BNPB, di akun Twitter Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sabtu, 11 April 2020.

    Informasi ini mengutip penjelasan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. 

    Fahrul mengatakan kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal condong ke arah selatan. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sekitar 1 menit 12 detik.

    Fahrul juga mengatakan saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada tingkat level II alias waspada. Masyarakat dan wisatawan tidak boleh mendekati kawah dalam radius 2 kilometer.

    Hingga berita ini diturunkan, akun Twitter BNPB belum menjelaskan soal bunyi dentuman yang masih terjadi beberapa jam setelah erupsi Gunung Anak Krakatau sepeti ditanyakan sejumlah netizen.

    Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) menyebut suara dentuman yang ramai dibahas di media sosial bukan berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

    "Saya sudah konfirmasi petugas pos pengamatan, mereka tidak mendengar karena letusannya juga kecil," kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Hendra Gunawan dihubungi di Jakarta, Sabtu, 11 April 2020.

    Menurut dia, erupsi gunung yang terletak di Selat Sunda dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung itu hanya mengeluarkan semburan ketinggian berkisar 500 meter.

    Catatan: Berita ini telah diedit pada Sabtu, 11 April 2020 pukul 06.52 WIB dengan menyertakan keterangan dari PVMBG.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.