Mendagri Tito Karnavian Ungkap Kekurangan Alkes Corona di Daerah

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi alat perlindungan diri (APD). REUTERS

    Ilustrasi alat perlindungan diri (APD). REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Dalam Negeri atau Mendagri Tito Karnavian mengungkapkan kekurangan alat dan sarana kesehatan untuk penanggulangan Corona di seluruh kabupaten/kota.

    Dia mencontohkan Provinsi NTT kekurangan 17 juta liter disinfektan berisi chlorine dan Sumatera Selatan sangat membutuhkan 250 juta masker biasa.

    "Dan DIY membutuhkan 3,2 juta APD," kata Tito Karnavian dalam keterangan tertulisnya pada Selasa lalu, 7 April 2020.

    Menurut dia, banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) konveksi rumahan yang bisa dimobilisasi untuk memproduksi APD untuk kebutuhan penanganan Corona.

    Maka tim Kemendagri mendata perusahaan nasional dalam negeri dan kemampuan produksi mereka. Pendataan awal soal kebutuhan dan ketersediaan sembilan bahan pokok (sembako) di daerah juga telah dilakukan.

    Mendagri Tito Karnavian menyampaikannya dalam video telekonferensi bersama seluruh bupati, wali kota, sekretaris daerah se-Indonesia, serta asosiasi dunia usaha.

    Asosiasi yang dimaksud seperti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Kamar Dagang dan Industri (Kadin), dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).

    Hadir pula Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Sosial, Menteri BUMN, Menteri Perdagangan, Menteri Ketenagakerjaan, serta Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan.

    Tito Karnavian menerangkan dengan membangun komunikasi dan tukar-menukar data antara asosiasi perusahaan dan pemerintah daerah dia berharap semua kekuatan bisa dikerahkan untuk mengatasi wabah Corona dan penyakit Covid-19.

    "Diskusi seperti ini perlu dilakukan secara teratur agar terjadi sinergi," ujar Tito Karnavian.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.