IDI: Garda Terdepan Hadapi Wabah Corona Itu Masyarakat

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah santriwati melewati bilik penyemprotan disinfektan dan pemeriksaan kesehatan saat tiba di alun alun, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu, 14 April 2020. Puluhan santri sebuah pondok pesantren di Pasuruan pulang ke Sidoarjo dan akan menjalani isolasi mandiri selama 14 hari setelah aktivitas belajar mengajar di pondok pesantren tersebut diliburkan sementara untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona atau COVID-19. ANTARA

    Sejumlah santriwati melewati bilik penyemprotan disinfektan dan pemeriksaan kesehatan saat tiba di alun alun, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu, 14 April 2020. Puluhan santri sebuah pondok pesantren di Pasuruan pulang ke Sidoarjo dan akan menjalani isolasi mandiri selama 14 hari setelah aktivitas belajar mengajar di pondok pesantren tersebut diliburkan sementara untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona atau COVID-19. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta masyarakat untuk tak menyebut tenaga medis sebagai garda terdepan wabah Corona. Menurut IDI, tenaga medis justru garda terakhir dalam menghadapi wabah ini.

    Wakil Ketua Umum PB IDI Mohammad Adib Khumaidi mengatakan, masyarakat sendiri yang merupakan garda terdepan. "Kenapa? Karena keberhasilan penanganan Covid-19 ini sekarang ada di masyarakat. Kepatuhan, contact tracing," ujar Adib saat dihubungi pada Senin, 6 April 2020.

    Di Indonesia, wabah virus Corona telah menginfeksi 2.092 orang dan mengakibatkan 191 orang di antaranya meninggal. Dari ratusan yang tutup usia itu, terdapat para tenaga medis seperti dokter atau perawat, yang ikut menjadi korban.

    IDI mencatat, hingga 5 April 2020, sudah 18 dokter di Indonesia yang meninggal akibat virus Corona. Baik sudah berstatus positif maupun pasien dalam pengawasan (PDP).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.