BMKG Jelaskan Literatur soal Kaitan Corona dan Cuaca Panas

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

    Ilustrasi virus corona atau Covid-19. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan alasan BMKG menggunakan literatur ilmiah yang belum final (peer-reviewed) dalam menganalisis hubungan antara kondisi iklim Indonesia dan penyebaran Corona.

    Dwikorita berpendapat pandemi Corona baru dimulai dan belum berakhir.

    "Maka tentu saja belum ada literatur yang peer reviewed. Karena peer review process itu biasanya memakan waktu lama, beberapa bulan dan bahkan tahun," katanya saat dihubungi Tempo hari ini, Ahad, 5 April 2020.

    Analisis BMKG, menurut Dwikorita, didasari temuan. Meski kajian yang digunakan BMKG belum final, dalam ranah sains hal itu bisa direvisi dan lumrah dilakukan.

    "Harapannya ini dapat digunakan sebagai kontribusi dalam menentukan arah kebijakan pemerintah."

    Dwikorita pun mengatakan rilis BMKG tadi selaras dengan penelitian Eriko Kudo dkk. yang sudah final atau peer-reviewed dengan judul: "Low ambient humidity impairs barrier function and innate resistance against influenza infection".

    Sebelumnya, BMKG menerbitkan rilis berjudul "Pengaruh Cuaca dan Iklim Terhadap Pandemi Covid-19.'

    Salah satu temuannya adalah virus Corona tidak cocok dengan iklim tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi. BMKG mengutip sejumlah penelitian, di antaranya belum berstatus final (peer-reviewed).

    Penelitian yang belum final seperti dari Miguel B. Araujo dan Babak Naimi serta Dong Chen Jr dan kawan-kawan. Hal tersebut diketahui dari laman medrxiv.org.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.