Jokowi: 433 Desa Belum Masuk Listrik, Paling Banyak di Papua

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi listrik (pixabay.com)

    ilustrasi listrik (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta 433 desa di Indonesia yang belum mendapat aliran listrik segera dialiri listrik. "Untuk 433 desa yang belum berlistrik saya minta diidentifikasi secara jelas," kata Presiden Jokowi melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat, 3 April 2020.

    Setelah diidentifikasi, Jokowi meminta jajarannya untuk segera menyiapkan anggaran, regulasi, dan kebijakan investasi yang diperlukan untuk mendukung program elektrifikasi di desa-desa itu.

    Beberapa opsi untuk mengaliri listrik ke 433 desa itu antara lain dengan pemasangan ekstensi jaringan listrik atau pembangunan mini grade seperti microhydro, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) atau distribusi tabung listrik yang dilengkapi dengan stasiun pengisian energi listrik. "Sebanyak 433 desa, meski jumlahnya sedikit bila dibanding jumlah desa di seluruh tanah air yaitu 75 ribu tapi apapun ini harus kita selesaikan," ujar Jokowi.

    Sebanyak 433 desa yang belum berlistrik tersebar di empat provinsi yaitu di Provinsi Papua sebanyak 325 desa, Provinsi Papua Barat 102 desa, Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 5 desa dan Provinsi Maluku 1 desa.

    Jokowi berharap program listrik untuk desa ini betul-betul memberikan nilai tambah bagi peningkatan produktivitas ekonomi di desa. Terutama dalam pengembangan industri rumah tangga, industri rumahan maupun membantu penerangan anak-anak dalam belajar. "Kita harapkan dengan adanya listrik anak-anak dapat belajar di malam hari dengan penerangan lampu yang cukup sehingga kualitas pendidikan kita juga meningkat."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.