Karantina Wilayah, Warga Tegal Sebut Kemacetan Terjadi di Gang

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kendaraan melintas di jalur Pantura yang dialihkan ke Jalur Lingkar Utara (jalingkut) Tegal, Jawa Tengah, Jumat, 27 Maret 2020. Pemerintah Kota Tegal memberlakukan lokal lockdown dengan menutup 50 titik jalur masuk ke Kota Tegal. ANTARA/Oky Lukmansyah

    Sejumlah kendaraan melintas di jalur Pantura yang dialihkan ke Jalur Lingkar Utara (jalingkut) Tegal, Jawa Tengah, Jumat, 27 Maret 2020. Pemerintah Kota Tegal memberlakukan lokal lockdown dengan menutup 50 titik jalur masuk ke Kota Tegal. ANTARA/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang warga Kelurahan Randugunting, Kota Tegal, Firman, menceritakan penumpukan arus sepeda motor justru terjadi di Gang Kasuari di samping rumahnya, akibat penutupan jalan-jalan besar. Pemerintah Kota Tegal memang memberlakukan karantina wilayah dengan cara menutup jalan-jalan besar demi mencegah penyebaran virus corona mulai Senin lalu, 30 Maret 2020 hingga 30 Juli 2020.

    Firman pun menilai karantina kota ini belum maksimal. "Imbasnya mengalihkan beban pengendara jalan ke gang-gang di kampung kami, memang sementara ini motor yang lewat," kata Firman kepada Tempo, Selasa malam, 31 Maret 2020.

    Firman mengatakan lebar gang di samping rumahnya hanya sekitar 1 meter. Selama dua hari belakangan, gang tersebut berjubel dengan sepeda motor. Bukan hanya suara riuh, asap kendaraan, dan debu jalanan, para pengendara itu juga berteriak-teriak lantaran berebutan melintas dari dua arah.

    Firman mengatakan, gang sepanjang sekitar 100 meter itu memang bukan jalan lurus. Ada sedikit kelokan sehingga orang dari dua ujungnya tak bisa melihat satu sama lain.

    "Ini sangat mengganggu, suara keras, teriak-teriak, enggak nyaman untuk istirahat dan sebagainya. Jalanan itu mestinya tidak untuk beban banyak karena memang gang kecil," kata pria berusia 40 tahun ini.

    Firman mengatakan warga sempat berinisiatif menutup gang. Namun mereka menyadari ada pula orang-orang yang punya kepentingan untuk melintas, seperti pedagang dengan gerobak yang akan berjualan.

    Ia pun meminta pemerintah Kota Tegal memperhatikan hal ini. Firman mengusulkan agar Jalan Raya Merpati yang menuju Jalan KS Tubun tak ditutup total. Menurut dia, perlu dibuka satu jalur kecil untuk kendaraan bermotor.

    "Taruhlah kasih lubang satu untuk kendaraan bermotor. Toh sama saja, sekarang di sana ditutup, mereka cari jalan tikus, nambah permasalahan baru," ujar dia.

    Jika Jalan Merpati tak bisa dibuka sedikit untuk akses, Firman meminta pemerintah menempatkan petugas pengatur lalu lintas di Gang Kasuari. Dia mengatakan, warga tak sanggup jika selama empat bulan ke depan harus mengatur sendiri lalu lintas di gang tersebut. "Kami punya inisiatif seperti itu, tapi harus bertahan berapa lama, orang sudah capek bekerja," ujar dia.

    Pemerintah Kota Tegal memberlakukan penutupan akses keluar masuk wilayah kota dengan menutup 50 ruas jalan. Hanya Jalan Mayjen Sutoyo satu-satunya yang tidak ditutup. Penutupan akses untuk karantina kota ini akan berlangsung hingga 30 Juli mendatang. Wali Kota Tegal Dedi Yon Supriyono sebelumnya mengatakan, karantina kota tersebut demi melindungi warga Tegal dari ancaman penyebaran virus corona.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTUN: Blokir Internet di Papua dan Papua Barat Melanggar Hukum

    PTUN umumkan hasil sidang perihal blokir internet di Papua dan Papua Barat pada akhir 2019. Menteri Kominfo dan Presiden dinyatakan melanggar hukum.